Jumat, 20 Mei 2016

Cerita pendek



Mangga Sagi

Burung-burung di pagi hari hilir mudik mandi dan mencari makanan-makanan kecil yang terhampar dan berserakan bersatu dengan kotoran. Di pagi yang lelah ada pohon mangga amat besar di bawah kaki gunung Ciremai ditemani seorang anak bernama Sagi yang sering bermain bersama pohon mangga itu. Dari hari ke hari Sagi dan pohon mangga ini terus bersama bermain, bergembira dan tertawa dari terbit matahari sampai senja yang terus di ulangi. Setiap hari Sagi selalu memanjat pohon mangga ini sampai ke puncaknya, tiduran dan berbaring di bawah pohon mangga, di bawah keteduhan dan kesejukan daun-daun yang lebat tanpa dimakan ulat, memakan buah mangga yang segar dan manis yang membuat perut keringnya berair dan kenyang. Sagi sangat menyayangi pohon mangga ini dan begitu pula sebaliknya pohon mangga ini sangat menyayangi Sagi selayaknya.
Hari demi hari berlalu Sagi jarang bermain dengan pohon mangga setiap harinya, pohon manggapun merasa kesepian. Pada senja Sagi datang dengan wajah lelah, muka lusuh, tubuh lemah dan kaki yang tak bersemangat melangkah, tubuhnya bagai ikan masuk jala.
pohon manggapun berkata “Sagi ayo kemari bermain denganku, ayo panjat aku, makan buah-buahku yang segar, lalu beristirahat dan berteduhlah di bawah dedaunanku yang rindang”
“aku bukan lagi anak kecil yang akan bermain dengan pohon mangga seperti dulu” jawab Sagi dengan lesu.
“kali ini aku sangat menginginkan mainan untuk bermain agar aku bisabermain seperti anak-anak yang lain” kata Sagi.
“maaf Sagi aku tidak memiliki uang untuk membelikanmu mainan, akan tetapi kau bisa mengambil semua mangga yang ada padaku dank au bisa mendapatkan uang untuk membeli maianan yang kau inginkan dengan uang dari penjualan mangga milikku ini”
Sagi sangat senang dan langsung memetik semua buah mangga untuk dijualnya. Akan tetapi Sagi kembali tidak datang kembali stelah memetik buah di pohon mangga itu, pohon mangga itu kembali bersedih karena ketidakhadiran Sagi dalam harinya.
            Beberapa hari kemudian Sagi datang kembali. Pohon mangga kembali bahagia sampai-sampai bergoyang sepeti dihempas angin dan menjatuhkan ranting kecil di kepala Sagi.
“ayo kita bermain-main lagi seperti dulu Sagi” ujar pohon mangga yang riang gembira
Jawab Sagi dengan singkat “aku tak punya waktu untuk bermain denganmu lagi”
“lalu kenapa kamu datang kemari? Apa kamu sedang kesusahan?”
“sepertinya seperti itu, kali ini aku harus bekerja untuk anak dan istriku, kami membutuhkan rumah untuk keluargaku”
“Maafkan aku Sagi aku tidak bisa memberikanmu rumah, bahkan akupun tidak memiliki rumah, rumahku hanya dunia ini, atap rumahkupun langit tak berbintang, dan lantainya hanya tanah yang dipenuhi kotoran burung saja. Tapi kau boleh memotong dahan dan rantingku untuk membuat rumah karena dahan dan rantingku cukup kuat”
“apa tidak apa-apa pohon mangga?”
“tentu saja ambilah semua dahan dan rantingku untuk membuat rumah keluargamu, tentu aku kan bahagia jika melihatmu bahagia Sagi. Don’t put off until tomorrow what you can do today, cepat tebang dahan dan rantingnya”
Sagipun memotong dahan dan ranting pohon mangga, lalu pergi dengan bahagia dengan dahan dan ranting pohon mangga. Pohon mangga sangat bahagia melihat Sagi begitu riang membawa dahan dan rantingnya. Lagi Sagi tidak pernah datang lagi dan pohon mangga merasa sepi dan sedih.
            Wabakdu, musim dingin berlalu dan musim panas datang berbarengan dengan Sagi. Pohon mangga menyambutnya dengan rasa bahagia meski dipanasi oleh sinar matahari karena pohon mangga kini tak berdahan dan beranting yang mengakibatkan daunnya hilang dan mengalami kepanasan yang luar biasa. Akan tetapi panas ini hilang karena kedatangan Sagi yang mungkin kali ini mau bermain dengannya.
Pohon mangga itu berujar “Sagi, kali ini ayo kita bermain sampai senja seperti dulu saat kau masih kanak-anak dan kekanak-kanakan?”
“pohon mangga, maafkan aku kali ini aku membutuhkan hiburan dan ingin sekali aku berlayar seperti bajak laut agar aku memiliki kebebasan, apakah kau memiliki perahu pohon mangga?”
“maafkan aku Sagi aku tidak memiliki perahu untuk membantumu berlayar dan mencari hiburan seperti bajak laut.”
“yah taka pa jika tak ada pohon mangga”
Sagi berjalan melangkah pergi dari pohon mangga, akan tetapi pohon mangga memanggilnya Sagipun berhenti.
“Sagi”
“ya keanapa pohon mangga?”
“ini Sagi ambillah batang tubuhku yang besar ini, batang tubuhku ini bisa cukup untuk dibuat perahu dan kaupun bisa berlayar jika memakai batang tubuhku, bukan hanya itu kau bisa mengingatku ketika kau sedang berlayar agar setelah kau mendapatkan hiburan kau bisa kembali kemari dan bermain denganku”
“apa kau yakin pohon mangga?”
“yah ambillah Sagi”
Sagipun menebang batang pohon mangga yang besar itu, kemudian pergi dengan hati yang senang, begitu pula dengan pohon mangga yang melihat Sagi begitu riang. Akan tetapi setelah hari itu bertahun-tahun pohon mangga hidup sendiri kesepian begitu lamanya karena Sagi tak pernah kembali lagi sampai begitu lamanya.
            Beberapa tahun kemudian Sagi datang menemui kembali pohon mangga itu, pohon mangga itu merasa bahagia. Pohon mangga bahagia dengan kedatangan Sagi. Tapi tiba-tiba pohon mangga itu terisak sedikit meneteskan air mata bukan mata air dan berkata
“maafkan aku anakku kali ini aku tidak memiliki mangga untuk kau makan”
“tak apa lagi pula aku sudah tua dan tidak memiliki gigi untuk membuka kulit mangga yang cukup keras itu” jawab Sagi.
“maafkan juga kali ini aku tak memiliki dahan, dan ranting sehingga kau tidak bisa memanjatku kali ini”
“tenanglah pohon mangga aku sudah tua untuk melakukan hal seperti itu”
“Sagi anakku kali ini aku hanya memiliki akar tua dan akar ini dalam keadaan sekarat” jawab pohon mangga.
“pohon mangga kali ini aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat, aku sangat lelah setelah sekian lama pergi jauh meninggalkanmu”
“baguslah kalau begitu, kali ini bersandarlah pada akar milikku yang sedang sekarat ini, dan tahukah kau akar pohon tua adalah tempat yang nyaman untuk berbaring dan beristirahat, ayo ayolah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang”
Pohon mangga kali ini sangat bahagia dan tersenyum melihat Sagi yang sedang beristirahat diatas akar-akarnya sambil meneteskan air mata.


 

12 Maret 2016
Iwan Kurniawan