Mangga Sagi
Burung-burung di pagi hari hilir mudik mandi dan
mencari makanan-makanan kecil yang terhampar dan berserakan bersatu dengan
kotoran. Di pagi yang lelah ada pohon mangga amat besar di bawah kaki gunung
Ciremai ditemani seorang anak bernama Sagi yang sering bermain bersama pohon
mangga itu. Dari hari ke hari Sagi dan pohon mangga ini terus bersama bermain,
bergembira dan tertawa dari terbit matahari sampai senja yang terus di ulangi. Setiap
hari Sagi selalu memanjat pohon mangga ini sampai ke puncaknya, tiduran dan
berbaring di bawah pohon mangga, di bawah keteduhan dan kesejukan daun-daun
yang lebat tanpa dimakan ulat, memakan buah mangga yang segar dan manis yang
membuat perut keringnya berair dan kenyang. Sagi sangat menyayangi pohon mangga
ini dan begitu pula sebaliknya pohon mangga ini sangat menyayangi Sagi
selayaknya.
Hari demi hari berlalu Sagi jarang bermain dengan
pohon mangga setiap harinya, pohon manggapun merasa kesepian. Pada senja Sagi
datang dengan wajah lelah, muka lusuh, tubuh lemah dan kaki yang tak
bersemangat melangkah, tubuhnya bagai ikan masuk jala.
pohon
manggapun berkata “Sagi ayo kemari bermain denganku, ayo panjat aku, makan
buah-buahku yang segar, lalu beristirahat dan berteduhlah di bawah dedaunanku
yang rindang”
“aku
bukan lagi anak kecil yang akan bermain dengan pohon mangga seperti dulu” jawab
Sagi dengan lesu.
“kali
ini aku sangat menginginkan mainan untuk bermain agar aku bisabermain seperti
anak-anak yang lain” kata Sagi.
“maaf
Sagi aku tidak memiliki uang untuk membelikanmu mainan, akan tetapi kau bisa
mengambil semua mangga yang ada padaku dank au bisa mendapatkan uang untuk
membeli maianan yang kau inginkan dengan uang dari penjualan mangga milikku
ini”
Sagi
sangat senang dan langsung memetik semua buah mangga untuk dijualnya. Akan
tetapi Sagi kembali tidak datang kembali stelah memetik buah di pohon mangga
itu, pohon mangga itu kembali bersedih karena ketidakhadiran Sagi dalam
harinya.
Beberapa hari kemudian Sagi datang
kembali. Pohon mangga kembali bahagia sampai-sampai bergoyang sepeti dihempas
angin dan menjatuhkan ranting kecil di kepala Sagi.
“ayo
kita bermain-main lagi seperti dulu Sagi” ujar pohon mangga yang riang gembira
Jawab
Sagi dengan singkat “aku tak punya waktu untuk bermain denganmu lagi”
“lalu
kenapa kamu datang kemari? Apa kamu sedang kesusahan?”
“sepertinya
seperti itu, kali ini aku harus bekerja untuk anak dan istriku, kami
membutuhkan rumah untuk keluargaku”
“Maafkan
aku Sagi aku tidak bisa memberikanmu rumah, bahkan akupun tidak memiliki rumah,
rumahku hanya dunia ini, atap rumahkupun langit tak berbintang, dan lantainya
hanya tanah yang dipenuhi kotoran burung saja. Tapi kau boleh memotong dahan
dan rantingku untuk membuat rumah karena dahan dan rantingku cukup kuat”
“apa
tidak apa-apa pohon mangga?”
“tentu
saja ambilah semua dahan dan rantingku untuk membuat rumah keluargamu, tentu
aku kan bahagia jika melihatmu bahagia Sagi. Don’t put off until tomorrow what
you can do today, cepat tebang dahan dan rantingnya”
Sagipun
memotong dahan dan ranting pohon mangga, lalu pergi dengan bahagia dengan dahan
dan ranting pohon mangga. Pohon mangga sangat bahagia melihat Sagi begitu riang
membawa dahan dan rantingnya. Lagi Sagi tidak pernah datang lagi dan pohon
mangga merasa sepi dan sedih.
Wabakdu, musim dingin berlalu dan
musim panas datang berbarengan dengan Sagi. Pohon mangga menyambutnya dengan
rasa bahagia meski dipanasi oleh sinar matahari karena pohon mangga kini tak
berdahan dan beranting yang mengakibatkan daunnya hilang dan mengalami kepanasan
yang luar biasa. Akan tetapi panas ini hilang karena kedatangan Sagi yang
mungkin kali ini mau bermain dengannya.
Pohon
mangga itu berujar “Sagi, kali ini ayo kita bermain sampai senja seperti dulu
saat kau masih kanak-anak dan kekanak-kanakan?”
“pohon
mangga, maafkan aku kali ini aku membutuhkan hiburan dan ingin sekali aku
berlayar seperti bajak laut agar aku memiliki kebebasan, apakah kau memiliki
perahu pohon mangga?”
“maafkan
aku Sagi aku tidak memiliki perahu untuk membantumu berlayar dan mencari hiburan
seperti bajak laut.”
“yah
taka pa jika tak ada pohon mangga”
Sagi
berjalan melangkah pergi dari pohon mangga, akan tetapi pohon mangga
memanggilnya Sagipun berhenti.
“Sagi”
“ya
keanapa pohon mangga?”
“ini
Sagi ambillah batang tubuhku yang besar ini, batang tubuhku ini bisa cukup
untuk dibuat perahu dan kaupun bisa berlayar jika memakai batang tubuhku, bukan
hanya itu kau bisa mengingatku ketika kau sedang berlayar agar setelah kau
mendapatkan hiburan kau bisa kembali kemari dan bermain denganku”
“apa
kau yakin pohon mangga?”
“yah
ambillah Sagi”
Sagipun
menebang batang pohon mangga yang besar itu, kemudian pergi dengan hati yang
senang, begitu pula dengan pohon mangga yang melihat Sagi begitu riang. Akan
tetapi setelah hari itu bertahun-tahun pohon mangga hidup sendiri kesepian
begitu lamanya karena Sagi tak pernah kembali lagi sampai begitu lamanya.
Beberapa tahun kemudian Sagi datang
menemui kembali pohon mangga itu, pohon mangga itu merasa bahagia. Pohon mangga
bahagia dengan kedatangan Sagi. Tapi tiba-tiba pohon mangga itu terisak sedikit
meneteskan air mata bukan mata air dan berkata
“maafkan
aku anakku kali ini aku tidak memiliki mangga untuk kau makan”
“tak
apa lagi pula aku sudah tua dan tidak memiliki gigi untuk membuka kulit mangga
yang cukup keras itu” jawab Sagi.
“maafkan
juga kali ini aku tak memiliki dahan, dan ranting sehingga kau tidak bisa
memanjatku kali ini”
“tenanglah
pohon mangga aku sudah tua untuk melakukan hal seperti itu”
“Sagi
anakku kali ini aku hanya memiliki akar tua dan akar ini dalam keadaan sekarat”
jawab pohon mangga.
“pohon
mangga kali ini aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat, aku sangat
lelah setelah sekian lama pergi jauh meninggalkanmu”
“baguslah
kalau begitu, kali ini bersandarlah pada akar milikku yang sedang sekarat ini,
dan tahukah kau akar pohon tua adalah tempat yang nyaman untuk berbaring dan
beristirahat, ayo ayolah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah
dengan tenang”
Pohon
mangga kali ini sangat bahagia dan tersenyum melihat Sagi yang sedang
beristirahat diatas akar-akarnya sambil meneteskan air mata.
12 Maret 2016
Iwan Kurniawan