GURU SABLENG
Matahari baru saja menggeliat dari balik perbukitan
ketika kaki ini terasa seberat timah. Ada rasa enggan yang mendidih di ulu hati, sebuah keinginan purba untuk meringkuk kembali di
bawah sarung, mengabaikan dunia yang menuntut kewarasan semu. Namun, bayangan
wajah-wajah mungil dengan ingus yang mengering di pinggir bibir, mata-mata
bening yang menyimpan harapan setinggi langit, tiba-tiba menyeruak. Seketika,
rasa malas itu berubah menjadi rasa malu yang membakar. Tolol, batinku.
Benar-benar tolol kalau aku membiarkan mereka menunggu di bawah pohon talas
hanya karena ego yang sedang merajuk. Aku bangkit. Bukan untuk mengenakan
seragam safari cokelat yang kaku dan berbau kamper, melainkan mengambil kemeja
flanel kumal dengan kancing yang tak lengkap. Rambutku? Kubiarkan ia merdeka,
acak-acakan serupa semak belukar yang tak tersentuh parang. Sepatuku bukan
pantofel hitam mengkilap hasil semiran setiap pagi, melainkan sepatu bot kain
berwarna awan yang sudah jebol di
bagian ibu jari.
Inilah aku. Jangan panggil aku
"Pak Guru", apalagi "Pak Ustad" dengan beban kesucian yang
membuat pundakku miring. Panggil saja aku "Guru Sableng". Sebab, di
dunia yang mengagungkan topeng, kejujuran seringkali dianggap sebagai gangguan
jiwa.
Di kampung ini, orang-orang tua sering bergumam
sambil mengunyah sirih, "Guru itu digugu dan ditiru." Mereka bicara seolah guru adalah
nabi tanpa cacat. Tapi bagiku, itu beban yang terlalu angkuh untuk dipikul
manusia biasa yang masih gemar makan mendoan di pinggir jalan.
"Anak-anak!"
teriakku di tengah lapangan rumput yang becek.
"Hari
ini kita tidak masuk kelas. Kelas itu sempit, pengap, dan hanya membuat otak
kalian tumpul seperti parang karatan!"
Mereka
bersorak. Bagi anak-anak desa, kebebasan adalah kemewahan. Kami berjalan menuju
sungai. Di sana, di atas batu-batu kali yang besar, kami belajar tentang
gravitasi dari air yang jatuh, tentang harmoni dari kicau burung kutilang, dan
tentang kesabaran dari lumut yang merayap pelan.
"Dengar,"
Kataku sambil bertengger di dahan pohon beringin,
mengabaikan tatapan sinis kepala sekolah yang kebetulan lewat dengan motor
bebeknya.
"Percayai
apa yang baik padaku. Jika kalian melihatku jujur, tirulah. Tapi jika kalian
melihatku berbohong, ketahuilah itu hanya caraku melindungi kalian dari dunia
yang lebih jahat. Dan jika aku melakukan hal buruk, jadikan itu cermin retak
yang tak boleh kalian gunakan untuk bersolek. Paham?"
"Paham,
Guru Sableng!"
Sahut mereka serempak, tawa mereka pecah menyatu
dengan gemericik air.
Seringkali, rekan sejawatku pamer tentang "memberikan ilmu". Aku hanya
tersenyum kecut. Ilmu apa yang bisa diberikan manusia? Apakah kita pemilik
pabrik pengetahuan?
"Ilmu
itu milik Tuhanmu," ujarku suatu sore saat berdiskusi dengan sesama guru
yang tampak rapi dengan dasi mencekik leher.
"Kita
ini bukan pemberi ilmu. Kita ini hanya penunjuk jalan. Seperti tukang parkir
yang mengarahkan kendaraan agar tidak tabrakan. Selebihnya? Itu urusan rahmat
Tuhan dan usaha si anak."
Guru-guru
lain menganggapku gila. Mungkin benar. Karena bagiku, mendidik bukan berarti
mendikte. Aku tidak ingin mereka menjadi robot yang hafal tahun pecahnya
perang, tapi tidak tahu cara mencintai tanah yang mereka injak. Aku ingin
mereka menjadi manusia.
Meski aku belum menikah, mereka adalah anak-anakku.
Darahku memang tidak mengalir di nadi mereka, tapi setiap doa yang kupanjatkan
di sepertiga malam, saat aku melepaskan
atribut kesablenganku, selalu ada
nama-nama mereka di sana.
"Ya
Tuhan," bisikku pada kesunyian desa.
"Bimbinglah
mereka. Jangan biarkan mereka menjadi waras seperti orang-orang yang kehilangan
kemanusiaannya demi pangkat. Biarkan mereka tetap sedikit 'sableng' agar tetap punya hati."
Aku
sadar, cara berpakaianku, gaya rambutku, dan pilihanku untuk tidak patuh pada
"syariat sepatu hitam" adalah bentuk pemberontakan kecil terhadap
sistem yang lebih mementingkan bungkus daripada isi. Kewarasan yang mereka
sepakati seringkali hanyalah keseragaman yang mematikan kreativitas.
Siang itu, udara seperti berhenti bergerak. Panas
menyengat khas tanah Jawa yang sedang menanti kiriman hujan. Aku duduk di akar
pohon Pule yang besar, sementara belasan anak-anak mengerumuniku. Mereka tidak
memegang pena. Mereka memegang ranting kering.
"Lihat
semut itu," tunjukku pada sebaris mahluk kecil yang sedang menggotong
bangkai belalang di sela akar.
Sodik,
muridku yang paling dekil tapi punya mata paling tajam, berjongkok hingga
hidungnya hampir menyentuh tanah.
"Mereka
tidak ada gurunya, tapi kenapa jalannya bisa rapi, Pak Guru Sableng?"
Aku
terkekeh, mencabut sebatang rumput dan menggigit ujungnya yang manis.
"Itulah
bedanya. Semut punya perintah Tuhan yang sudah menyatu dalam darahnya. Mereka
tidak butuh ijazah untuk tahu cara bekerja sama. Manusia? Manusia seringkali
butuh sekolah bertahun-tahun hanya untuk belajar cara mengkhianati temannya
sendiri."
Sodik
terdiam. Ia menatapku dengan kening berkerut.
"Lalu
kenapa kita harus belajar kalau semut saja lebih pintar tanpa sekolah?"
Aku bangkit, mengacak rambut Sodik yang sudah sama berantakannya dengan
rambutku.
"Kita
belajar bukan untuk jadi lebih pintar dari semut, Dik. Kita belajar supaya kita
tidak kehilangan 'kemanusiaan' kita. Supaya kalian tahu bahwa ilmu yang kalian
dapat itu bukan milik kalian. Itu titipan. Kalau kalian merasa punya ilmu lalu
jadi sombong, kalian lebih rendah dari semut-semut itu."
Sore harinya, saat kami bersiap pulang, seorang pria
berpakaian rapi dengan motor yang mengkilap berhenti di pinggir jalan setapak.
Pak Broto, pengawas sekolah yang selalu wangi parfum melati namun bicaranya setajam
sembilu. Ia memandangiku dari ujung rambut hingga ujung sepatu bot kainku yang
compang-camping. "Iwan," panggilnya itu nama asliku,
nama yang jarang kudengar karena terkubur sebutan 'Sableng'.
"Apa
tidak bisa kau sedikit saja menghormati profesimu? Lihat sepatumu. Lihat
rambutmu. Bagaimana anak-anak mau meniru kalau gurunya seperti
gelandangan?"
Aku
tersenyum, tipe senyum yang paling dibenci orang-orang waras karena terasa
seperti ejekan.
"Pak
Broto yang terhormat," kataku pelan, sambil membersihkan tanah dari
sepatuku.
"Anak-anak
ini sudah terlalu sering melihat orang memakai sepatu hitam mengkilap tapi
kakinya suka menendang hak orang kecil. Mereka sudah bosan melihat orang
berbaju rapi tapi hatinya penuh rayap. Saya hanya ingin mereka tahu, bahwa
kebenaran tidak ditentukan oleh merk sepatu atau rapinya sisiran rambut."
Pak Broto mendengus, wajahnya memerah.
"Tapi
ada aturan! Guru itu digugu lan ditiru!"
"Betul,"
sahutku tenang.
"Maka
saya katakan pada mereka, Tiru yang baik
dari saya, dan jadikan yang buruk dari saya sebagai peringatan. Saya tidak
sedang mencetak malaikat di sini, Pak. Saya sedang membimbing manusia. Dan
manusia itu tempatnya salah. Kalau saya berlagak sempurna di depan mereka, saya
sedang mengajarkan kebohongan yang paling nyata." Pak Broto pergi dengan
gerungan mesin motornya yang sombong, meninggalkan debu yang menempel di
wajah-wajah muridku
Sodik masih
berdiri di sana, melihat kepergian pengawas itu. Ia lalu menatapku.
"Pak,
tadi bapak bilang ke Pak Broto kalau bapak tidak sempurna. Memang apa yang
tidak baik dari bapak?"
Aku
duduk kembali di atas batu, menarik napas panjang. Bau tanah basah mulai
tercium, hujan akan segera turun.
"Banyak,
Dik. Aku malas bangun pagi. Aku kadang ingin lari dari tanggung jawab. Aku
sering merasa tolol karena masih peduli pada kalian sementara dunia lebih
menghargai angka-angka di atas kertas daripada tawa kalian. Itu semua tidak
patut kau tiru."
Aku
menatap matanya yang bening.
"Tapi,
jika kau melihat aku mencintai kalian dengan tulus, meski aku bukan ayah
kandung kalian, tirulah itu. Jika kau melihat aku berani berkata jujur di depan
orang yang lebih kuat, tirulah itu. Selebihnya, mintalah pada Gusti Allah agar
kalian diberi jalan yang lebih lurus daripada jalannya gurumu yang sableng ini."
Hujan
benar-benar jatuh. Satu-satu, lalu menderas. Anak-anak itu berlarian di bawah
guyuran rahmat Tuhan, berteriak kegirangan. Di sana, di antara tawa dan basah
kuyup, aku melihat masa depan yang tidak terkungkung oleh tembok kelas yang
pengap. Aku bukan pemberi ilmu. Aku hanya seorang lelaki kurang waras yang
sedang jatuh cinta pada kemurnian jiwa mereka. Dan dalam doa yang basah itu,
aku bersyukur karena masih punya alasan untuk tidak menjadi "waras"
di dunia yang sudah gila ini. Hujan yang turun kemarin menyisakan kubangan di
sana-sini, namun suasana di desa tidak sedingin airnya. Kabar buruk merambat
lebih cepat daripada aroma masakan di dapur-dapur warga. Sodik, muridku yang
matanya paling tajam itu, tidak terlihat di bawah pohon Pule. Ia juga tidak ada
di pematang sawah. Kabar yang kudengar membuat dadaku sesak: Sodik tertangkap
basah mencuri di toko kelontong milik Haji Jafar, orang terkaya sekaligus
paling disegani di desa ini karena kedermawanannya yang sering kali dibarengi
dengan ketegasan yang tak kenal ampun. Aku berlari dengan sepatu bot kainku
yang berat karena lumpur. Rambutku yang acak-acakan semakin kusut tertiup
angin. Di depan toko Haji Jafar, kerumunan sudah menyemut. Ada amarah yang
menggantung di udara. Sodik bersimpuh di tanah, kepalanya menunduk dalam-dalam,
sementara tangannya gemetar memegang sebuah kotak pensil kayu yang sederhana.
“Guru Sableng datang!" bisik seseorang di
kerumunan.
Haji Jafar berdiri dengan angkuh, memegang kerah
baju Sodik yang kumal.
"Lihat ini, Iwan! Inikah hasil didikanmu di
bawah pohon itu? Anak ini mencuri! Dia bilang dia butuh kotak pensil untuk
ujian besok, tapi mencuri tetaplah mencuri. Hukum harus ditegakkan. Aku akan
membawanya ke kantor polisi di kecamatan!" Sodik terisak.
Di
mata anak itu, aku melihat kiamat kecil. Jika ia masuk penjara atau sekadar
dicap pencuri oleh seluruh desa, tamatlah masa depannya. Aku maju, tidak dengan
amarah, tapi dengan tawa kecil yang terdengar sumbang. Tawa seorang yang
"kurang waras". Aku berdiri tepat di depan Haji Jafar, mengabaikan
tatapan jijik warga pada penampilanku.
"Haji,"
kataku pelan,
"Saya
memang sableng, tapi saya tidak buta. Sodik salah. Dia sangat salah."
Haji
Jafar tersenyum penuh kemenangan.
"Nah,
kau dengar itu, Sodik? Gurumu saja mengakui!"
"Tapi,"
lanjutku, suaraku meninggi sehingga semua orang bisa mendengar, "Saya
ingin menuntut orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini. Orang
yang membiarkan seorang anak yatim piatu kelaparan akan alat tulis hingga ia
kehilangan akal sehatnya."
"Siapa?"
tanya Haji Jafar kasar.
Aku
menunjuk dadaku sendiri dengan jempol.
"Saya.
Dan kalian semua."
Kerumunan mendadak sunyi. Hanya suara gesekan daun
pisang yang terdengar. "Saya gurunya, tapi saya gagal melihat bahwa kotak
pensilnya sudah hancur bulan lalu. Saya terlalu sibuk bicara soal Tuhan dan
alam sampai lupa bahwa perut dan tasnya kosong,"
Kataku dengan nada pahit.
"Dan
Haji Jafar, Anda adalah orang paling waras di desa ini. Kewarasan Anda membuat
Anda membangun pagar tinggi agar tidak melihat tetangga yang kekurangan.
Kewarasan warga di sini membuat kalian lebih peduli pada rapinya seragam sekolah
daripada tahu apakah anak ini sudah sarapan atau belum."
Aku
merogoh saku flanelku, mengeluarkan beberapa lembar uang lecek hasil sisa gaji
yang tak seberapa. Aku meletakkannya di atas meja dagangan Haji Jafar.
"Ini
bayaran untuk kotak pensil itu. Dan ini..."
Aku melepas sepatu bot kainku yang jebol, menyisakan
kaki telanjang yang kotor oleh tanah,
"ini
adalah jaminan saya. Jika Sodik mencuri lagi, silakan ambil kaki saya. Tapi
hari ini, biarkan dia pergi. Dia bukan pencuri, dia hanya seorang anak yang
sedang tersesat mencari alat untuk menuliskan masa depannya."
Haji
Jafar terdiam. Matanya beralih dari uang lecek itu ke kakiku yang telanjang,
lalu ke arah Sodik yang masih gemetar. Keangkuhan di wajahnya perlahan luruh,
digantikan oleh rasa malu yang merayap pelan.
Haji Jafar melepaskan kerah baju Sodik. Ia menghela
napas panjang, lalu mengembalikan uang lecek itu ke tanganku.
"Ambil
uangmu, Iwan. Dan ambil sepatumu yang bau itu," gumamnya, meski ada nada
hormat yang terselip di sana.
"Bawa
anak ini pergi. Didik dia agar tidak perlu lagi melakukan hal memalukan seperti
ini."
Aku
memegang bahu Sodik, membantunya berdiri. Kami berjalan menjauh dari kerumunan
tanpa alas kaki. Di bawah rindang pohon bambu, Sodik menangis sejadi-jadinya.
"Maaf,
Pak Guru Sableng... saya malu," isaknya.
Aku
berjongkok, menyamakan tingginya dengan posisiku.
"Tadi
aku bilang apa di kelas? Jika ada yang tidak baik padaku, itu contoh yang tidak
patut kalian tiru. Tapi hari ini, Sodik, kaulah yang memberikan contoh buruk
itu. Jangan ditiru lagi, bahkan oleh dirimu sendiri."
Aku
mengambil kotak pensil kayu itu dari tangannya.
"Ilmu
itu milik Tuhan, Dik. Dan Tuhan tidak suka jika jalan menuju ilmu-Nya ditempuh
dengan cara yang kotor. Tapi ingat, Tuhan juga Maha Pengampun bagi mereka yang
mau belajar dari 'kesablengan' masa lalunya."
Malam itu, aku duduk di teras rumah kayu kecilku.
Kaki telanjangku terasa dingin, tapi hatiku hangat. Aku teringat kata-kata
orang,
"Guru
itu mendidik, bukan mendikte." Terkadang, mendidik berarti harus berani
menjadi tameng bagi kesalahan muridmu, agar mereka punya kesempatan untuk
memperbaikinya. Menjadi "kurang waras" di mata dunia sering kali
adalah satu-satunya cara untuk tetap menjaga kewarasan nurani. Aku tidak tahu
sampai kapan aku akan dipanggil Guru Sableng. Aku tidak tahu apakah rambutku
akan pernah disisir rapi atau sepatuku akan berubah menjadi hitam mengkilap.
Tapi satu hal yang pasti: selama masih ada anak-anak yang menatapku dengan
harapan, aku akan terus berangkat ke sekolah, entah
itu di dalam kelas yang pengap atau di bawah langit yang luas. Sebab bagi
seorang Guru Sableng, ilmu bukan untuk diberikan, tapi untuk diarahkan agar
sampai pada ridho-Nya.