BAPAK
Karya
B. Soelarto
-Lakon satu babak-
PARA
PELAKU
Bapak : usia 51 tahun
Sulung : usia 28 tahun
Bungsu : usia 24 tahun
Perwira : usia 26 tahun
Bagimu, kemerdekaan bumi pusaka.
Drama ini terjadi pada 19 Januari
1949, sebulan sesudah tentara colonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang
kedua dengan merebut ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta.
Tentara colonial
telah pula siap-siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah
ibu kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon Tentara Nasional
Indonesia.
Di kota itulah
Bapak dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah
bertahun-tahun merantau tanpa kabar berita.
Si Sulung telah kembali
pulang dengan membawa usul yang amat sangat mengagetkan si Bapak.
Waktu itu
seputar jam 10.00, Si Bapak yang sudah lanjut usia, jalan hilir mudik dengan
membawa beban persoalan yang terus-menerus merongrong pikirannya.
01.
Bapak : Dia, putra sulungku. Si anak
hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke
daerah pendudukan yang serba amat tentram. Hmm, ya, ya, usulnya dapat ku
mengerti. Karena ia sudah terbiasa bertahun hidupp di sana. Dalam sangkar, jauh
dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelapbutakan oleh nina bobo,
lelap-buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakkan oleh suap roti keju.
Celaka, oo, betapa celaka nian.
(Si Bungsu senyum mendatang
02.
Bungsu :
Ah, Bapak rupanya sedang ngomong sendiri.
03.
Bapak : Ya, anakku, terkadang orang lebih
suka ngomong pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah tadi kau bersama abangmu?
04.
Bungsu : Ya. Sehari kami tamasya mengitari
seluruh penjuru kota. Syang sekali, kami tidak berhasil menjumpai Mas…
05.
Bapak : Tunanganmu?
06.
Bungsu : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan
kemiliteran melulu. Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tidak ada.
Kata mereka, ia sedang rapat dinas. He heh, seolah-olah seluruh hidunya tersita
untuk urusan-urusan militer saja.
07.
Bapak : Kita sedang dalam keadaan darurat
perang, Nak. Dan dalam kedaan begini, bagi seorang prajurit kepentingan Negara
ada di atas segalanya. Bahkan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya.
Tapi, eh, mana abangmu sekarang?
08.
Bungsu : Oo, rupanya dia begitu rindu pada
bumi kelahirannya. Seluruh penjuru kota dipotreti semua. Tapi kurasa abang akan
segera tiba. Dan sudahkah Bapak menjawab usul yang diajukannya itu?
09.
Bapak : Itulah, itulah yang hendak
kuputuskan ini, Nak.
10.
Bungsu : Nah, itu dia!
(Si Sulung datang dengan mencangklong pesawat
potret, mengenakan kacamata hitam. Terus duduk, melepas kacamata dan meletakkan
pesawat potret di meja).
11.
Sulung : Huhuh, kota tercintaku ini sudah
berubah wajah. Dipenuhi penghuni baju seragam menyandang senapan. Dipagari
lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan
laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih
tetap memperlihatkan kejelitaannya.
12.
Bapak : Begitulah Nak, suasana kota yang
sedang dicekam keadaan darurat perang.
13.
Sulung : Ya, pertanda akan hilang keamanan,
berganti huru-hara keonaran. Dan, mumpung masih keburu waktu, bagaimana dengan
putusan Bapak atas usulanku itu?
14.
Bapak : Menyesal sekali Nak ….
15.
Sulung : Bapak menjawab dengan penolakkan,
bukan?
16.
Bapak : Ya.
17.
Bungsu : Jawaban Bapak sangat bijaksana.
18.
Sulung : Bijaksana! Ya, kau benar manisku.
Setidak-tidaknya demikianlah anggapanmu, karena bukankah secara kebetulan
tunanganmu adalah perwira TNI di sini. Tapi maaf, bukan maksudku menyindirmu,
Adik sayang.
(Si Bungsu pergi. Si Sulung mengantar dengan senyum)
19.
Bapak :
Nak, pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu seorang. Juga bukan karena
masa depan sisa usiaku.
20.
Sulung : Hmm, lalu? Barangkali karena rumah
pusaka ini ya, Bapak?
21.
Bapak : Sesungguhnyalah Nak, lebih karena
itu.
22.
Sulung : Oo ya? Apa itu Bapak?
23.
Bapak : Kemerdekaan.
24.
Sulung : Kemerdekaan? Kemerdekaan apa!
25.
Bapak : Bangsa dan bumi pusaka.
(Si Sulung ketawa).
26.
Sulung : Bapak yang baik. Bertahan sudah
aku hidup di daerah pendudukan sana bersama awak yang tercinta. Dan aku seperti
juga mereka, tidak pernah merasa jadi budak-belian ataupun tawanan perang.
Ketahuilah ya Bapak, di sana kami hidup merdeka.
27.
Bapak : Bebaskah kau menuntut
kemerdekaan?
28.
Sulung : Hoho, apa yang mesti dituntut! Kami
disana manusia-manusia merdeka.
29.
Bapak : Bagaimana kemerdekaan menurut kau,
Nak?
30.
Sulung : Hmm, di sana kami punya wali
Negara, bangsa awak. Di sana, segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi
bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat Negara bangsa awak.
Di atas segalanya, kami disana hidup dalam damai. Rukun berdampingan antara si
putih dan bangsa awak…
31.
Bapak : Dan diatas segalanya pula, di
sana si putih menjadi yang dipertuan. Dan sebuah bendera asing jadi lambing
kedaulatan, lambing kuasa; penjajahan. Dapatkah kau artikan itu suatu
kemerdekaan?
32.
Sulung : Ah, Bapak berpikir secara politis.
Itu urusan politik!
33.
Bapak : Nak, kemerdekaan atau penjajahan
selalu soal politik. Selalu merupakan buah politik.
34.
Sulung : Baik, baik. Tapi ya Bapak. Kita
bukan politis
35.
Bapak : Nak, setiap patriot pada
hakikatnya adalah seorang diplomat, seorang negarawan. Dan, justru karena
kesadaran dan pengertian politiknya itulah, seorang patriot akan senantiasa
membangkang terhadap tiap politik penjajahan. Betapapun manis bentuk lahirnya.
Renungkanlah itu, Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah dulu
semasa kita masih hidup dalam alam Hindia-Belanda, kita hidup serba kecukupan
dalam sandang-pangan. Kesejahteraan idup keluarga dalam suasana aman dan tentram
dan masa pension yang enak, sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam
kemerdekaan?
Tidak,
anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. kemerdekaan adalah soal
harga diri kebangsaan, soal kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh
kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi
pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku, renungkanlah kebenaran ucapanku ini.
Renungkanlah.
36.
Sulung : Menyesal ya, Bapak. Rupanya kita
berbeda kutub dalam tafsir makna…
37.
Bapak : Namun kau Nak, kau wajib untuk
merenungkannya. Sebab, aku yakin kau akan mampu menemukan titi-simpul kebenaran
ucapan itu.
38.
Sulung : Baik, baik. Itu akan ku renungkan.
Mungkin kelak aku akan membenarkan tafsir Bapak. Tapi sekarang ini dan dalam
waktu mendatang yang singkat, aku bekum bersedia untuk mempertimbangkannya.
Lagi pula, kita sekarang diburu waktu. Karenanya, kumohon Bapak berkenan sekali
lagi mempertimbangkan usulku. Setidak-tidaknya, demi kedamaian hidup masa tua
Bapak juga. Bahkan, sebenarnya juga demi masa depan adikku satu-satunya itu.
tapi karena dia lebih memberati masa nikahnya dengan seorang perwira TNI,
terpulanglah pada kehendaknya sendiri. Cuma, telah kupesankan padanya, agar ia
segera saja pindah kepedalaman yang masih jauh dari jangkauan peluru meriam.
Karena kurasa wajah kota tercintaku ini tak lama lagi akan hancur lebur ditimpa
kebinasaan perang.
39.
Bapak : Nak, apapun yang terjadi aku akan
tetap bertahan di sini. Dan bila mereka melanda kota ini, insya Allah akupun
akan ikut angkat senjata. Bukan karena rumah atau tanah waris. Tapi, karena
kemerdekaan tanah pusaka. Ya, mungkin sekali pembelaanku akan kurang berarti.
Namun dalam setitik amal baktiku itulah, kutemukan sisa bahagia dalam sisa
usiaku. Dan kalaupun aku mesti mati untuk itu, niscayalah aku ikhlas mati dalam
damai di hati.
Nah,
kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. Bila ada
anakku yang yakin bahwa masa depannya di daerah pendudukan akan lebih
membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah, bila adikmu mantap mengungsi
kesana. Silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam
kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan. Karenanya, aku
yakin ia tidak akan pernah ragu untuk menentukan kemana cinta hidupnya hendak
dibawa. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan seorang perwira TNI yang
menjadi dasar timbang-rasa, timbang hatinya. Tapi pengertian cintanya pada
kemerdekaan bumi pusaka!
40.
Sulung : Ah, Bapak terpanggang oleh api
sentimen patriotisme. Ya, ya aku memang mengerti, lantaran dulu Bapak pernah
jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan, sampai-sampai almarhumah Bunda
wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara.
Dan, kini rupanya Bapak menimpakkan segala dendam itu pada pemerintahan
kerajaan. Bapak, sebaiknya lupakanlah masa lalu. Lupakanlah semua duka cerita
itu.
41.
Bapak : Anakku saying, kebencianku pada
mereka. Dulu, sekarang, dan besok, bukanlah dendam pribadi. Tidak!
Pembangakanganku dulu, sekarang, dan besok bukanlah karena sentiment, tapi
karena keyakinan. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan bahwa
membangkang penjajah adalah sutu tindak mulia, tindak hak. Untuk itulah aku
rela menderita dan korbankan segalanya, Nak. Aku bangga untuk itu. juga
almarhumah bundamu, Nak. Karena ia tahu dan sadar akan arti pengorbanannya.
Tidak akan pernah tersia. Meski tak akan ada bintang jasa dan tugu kenangan
baginya…
42.
Sulung : Lepas dari setuju atau tidak, aku
kagumi Bapak dalam meneguhi keyakinan. Ya, laepas dari setuju atau tidak, aku
kagumi kesabaran dan ketabahan almarhumah bunda. Untuk itulah, aku selalu
bangga kepada Bapak dan almarhumah bunda. Juga pada adikku seorang yang begitu
tinggi kesadaran pengertiannya, begitu agung cintanya pada kemerdekaan, meski
tafsirannya adalah tafsiran yang Bapak rumuskan. Dan ya, kita memang mesti
berbangga diri dalam meneguhi cita dan keyakinan masing-masing. Tapi, ya Bapak,
usulku taka da sangkut-pautnya dengan masalah kebanggaan-kebanggaan pribadi.
Usulku, Cuma untuk keselamatan pribadi!
43.
Bapak : Kau benar, usulu memang tidak
bersangkut paut dengan kebanggaan-kebanggaan pribadi. tapi usulmu itu langsung
menyentuh keyakinan-keyakinan pribadi. dan menurut jalan-pikiran keyakinanku,
usulanmu itu wajib ditolak. Mutlak! Sebab mengorbankan keyakinan, bagiku nilai
rasanya sungguh teramat nista. Tengoklah sejarah, lihatlah betapa para satria
muslim syahid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa kaum nasrani begitu
pasrah dikoyak-koyak singa zaman Nero. Ya, mereka yang muslim, yang nasrani
sama tulus ikhlas mati syahid menurut anggapannya, daripada mengorbankan
keyakinan-keyakinan yang mereka teguhi.
44.
Sulung : Ya, bila memang Bapak begitu teguh pada pendirian yang Bapak
anut, apa boleh buat…
45.
Bapak : Tapi Nak, izinkan aku tanya,
bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah?
46.
Sulung : Sudah kunyatakan tadi, bahwa
antara kita ada perbedaan kutub, perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. Kita
menempuh jalan yang beda. Bapak memilih jalan pembangkangan, aku sebaliknya.
Satu tragedy. Dan menurut tanggapanku, tragedi yang terjadi dan bakal terjadi
di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis, dari pihak yang sekeyakinan
denga Bapak.
47.
Bapak : Sayang sekali Nak, kita tegak
pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tapi adalah keliru bila kau
menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, Nak.
Kami cinta damai, tapi adalah pasti, lebih memberati kemerdekaan, maka pihak
kamipun membenarkan tindak pembangkangan bersenjata. Bagaimana pun juga,
kedudukan kami adalah bertahan diri. Nak, sejarah membuktikan bahwa kaum
penjajah menjangkahi bumi pusaka kita, merekalah yang menciptakan segala sengketa
berdarah antara sesama kita. Politik penjajahan merekalah yang menghasilkan
duka cerita di tanah air. Ya, di mana saja. Adalah kaum penjajah yang menjadi
biang keladi dan yang bertanggung jawab atas segala duka-cerita bangsa-bangsa
yang terjajah!
48.
Sulung : Begitu pendapat Bapak? Memang
Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu.
49.
Bapak : Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah!
50.
Sulung : Salah bagi Bapak, benar bagiku.
Dan, aku sadar benar akan itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia
menanggung risikonya.
(Si Sulung cepat melangkah kedalam).
51.
Bapak : Ya, memang keyakinan tidak bisa
dipaksakan. Tidak juga bagi seorang Bapak kepada anak kandung sendiri. Namun
bagaimanapun jua, aku telah mengingatkannya.
(Dari dalam rumah terdengar suara-suara isyarat
pesawat pemancar isyarat. Bapak tersentak keheranan. Dan dengan penuh curiga si
Bapak melangkah ke dalam).
(Si Bungsu muncul dengan mencangklong tas penuh berisi bungkusan makanan dan sayur-mayur)
52.
Bungsu : Ee, kemana semua ini.
(Di luar orang kedengaran mengetuk-ngetuk pintu).
53.
Bungsu : oo, Mas. Mari Mas silakan masuk.
(Perwira muncul beriring senyum bersambut senyum si
Bungsu).
54.
Perwira : Maafkan, aku tidak sempat menemui…
55.
Bungsu : Lupakanlah. Yang penting Mas
sekarang sudah berada di sini.
56.
Perwira : Di mana abangmu, Dik? Tentulah dia
amat jengkel padaku, bukan? Kenapa sejak kedatangannya di sini, ia selalu tidak
berhasil dalam usahanya mengenalku. Ya, akupun sangat ingin mengenalnya.
Dapatkah kini aku yang memperkenalkan diri?
57.
Bungsu : Tentu, dan itu sudah kewajibanmu,
Mas…
(mendadak dari dalam kedengaran suara tembakan
pistol beberapa kali. Si Bungsu dan Perwira tersentak kaget).
58.
Bungsu : Kau dengar, Mas?
59.
Perwira : Tembakan pistol!
60.
Bungsu : Dari dalam rumah…
61.
Perwira : Ada sesuatu yang tidak beres di
dalam sana. Adakah Bapak memiliki senjata api itu, Dik?
62.
Bungsu : Setahuku tidak.
63.
Perwira : Abangmu, Barangkali?
(Si Bapak mendadak muncul dengan pistol di tangan
kanan dan sebuah map tebal di tangan kiri. Mereka saling menatap dengan heran,
tegang si Bapak meletakkan map di atas meja. Pistol diletakkan diatasnya).
64.
Bapak : Pistol ini milik putra Sulungku…
65.
Bungsu : Bapak, apa yang terjadi!
66.
Bapak : Aku… Aku telah menembak mati
Abangmu, anak kandungku pribadi.
(Si Bungsu menjerit).
67.
Bungsu : Tapi,… tapi bagaimana mungkin Bapak
bertindak begitu…
68.
Bapak : Bagaimana juga, aku telah
menembak dengan kesadaran.
69.
Bungsu : Apa… apa dosa abangku seorang!
(Si Bapak tenang duduk, berusaha menguasai diri.
Lalu menatap kea rah Perwira yang masih terpaku keheranan).
70.
Bapak : Nak, lihatlah ada alat-alat apa
saja di kamar dalam sana!
71.
Bungsu : Bapak, jawablah tanyaku tai.
Katakanlah apa dosa, apa salah abang?
(Si Bapak terdiam, si Bungsu terisak pilu. Perwira
cepat pergi ke dalam. Sejenak sepi selain sedu sedan si Bungsu. Kemudian
perwira juga muncul dengan wajah memucat, tangan kanan mencangklong alat
peneropong. Tangan kiri mengapit lipatan peta militer dan pistol isyarat).
72.
Bapak : Apa saja yang kau temukan disana?
73.
Perwira : Sebuah alat pesawat pemancar-isyarat
radio. Dan yang kubawa ini…
(Barang-barang diletakkan di atas meja).
74.
Perwira : Pistol isyarat. Peta militer yang
secara terperinci menggambarkan denah kota ini, lengkap dengan tempat-tempat
instalasi militer, kubu-kubu pertahanan kita disini.
(Si Bapak menoleh ke arah si Bungsu yang masih
tersedu).
75.
Bapak : Kau dengar sendiri, Nak? Abangmu,
seorang penghianat.
(Si Bapak gemetar tubuhnya, dan suaranya
menggemetarlah).
76.
Bapak : Dia anak kandungku, penghianat!
(Mata si Bapak terkaca basah, berulang kali
menggumam kata “Penghianat”. Dengan menahan amarah campur kepedihan hati. Si
Bapak mengeluarkan sebuah potret ukuran kartu pos dari dalam map yang tapi di
bawanya. Potret diperlihatkan kepada Si Bungsu dan Perwira).
77.
Bapak : Lihat-lihat! Dia dalam seragam
tentara colonial, dengan pangkat letnan! Lengkap dengan bintang-bintang jasa
khianatnya menghiasi dada.
(Si Bungsu menghentikan sedu-isakannya. Cepat
merebut potret dari tangan si Bapak. Gemetar si Bungsu menatap potret. Kemudian
seolah potret itupun terlepas sendiri jatuh ke lantai. Si Bungsu menutupkan
kedua tangannya pada wajahnya beriring suara melengking parau).
78.
Bungsu : Abang!
79.
Bapak : Tak perlu ia diratapi lagi, Nak.
(Si Bungsu dengan mata terkaca basah mengangguk pela sambil menahan
kerunyaman hatinya. Dan deraian air mata kepedihannya).
(Si Bapak mengambil map, diserahkannya kepada
Perwira yang masih tertegun dengan wajah yang muram).
80.
Bapak : Bawa! Di dalamnya, penuh dengan
dokumen rahasia-rahasia militer. Mungkin sekali juga, kunci-sandi dinas-rahasia
tentara colonial. Sebab dia ternyata seorang opsir dalam Dinas Rahasia Tentara
Kerajaan.
(Perwira menerima map).
81.
Bapak : Nak, izinkan kubertanya. Apa yang
akan kalian lakukan terhadapnya sekiranya ia tertangkap kalian?
82.
Perwira : Hukum tembak sampai mati.
83.
Bapak : Itu sudah terlaksana, dengan
tanganku pribadi.
84.
Bungsu : Tapi, mengapa Bapak sendiri yang
menghakimi?
85.
Bapak : Karena, dia anak kandungku
pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya, karena cintaku itulah, aku tidak rela ia
meneruskan langkah sesatnya, langkah khianatnya. Harus ya, wajib dihentikan.
Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya, aku telah
menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya,
berakhirlah pula kerja nistanya sebagai penghianat. Ya, sekali ini aku
memaksakan kehendakku pada anak kandungku sendiri. Dan, dengan kekerasan dalam bentuk pembunuhan! Itu kulakukan dalam
bentuk dorongan dendam. Tanpa semangat kebencian pada diri almarhum. Dan itu
akan kupertanggungjawabkan, dunia akhirat. Dia anak kandungku pribadi. Tapi
cinta kebapakan ku ada batasnya. Karena aku lebih cinta kepada kemerdekaan
bangsa dan bumi pusaka. Dan bagimu kemerdekaan, sekali anak kandungku kujadikan
tumbal sesaji. Bila saja ia pahlawan, hendaknya gugurlah syahid di pangkuan ibu
kemerdekaan. Bila ia penghianat, matilah ia ditanganku pribadi. Dan celakalah
ia, karena ia telah memilih kematian yang paling aib. Mati dalam khianat.
(Si Bapak menoleh kea rah Perwira).
86.
Bapak : Tolonglah Nak, bawa kemari
jenazah almarhum.
(Perwira cepat melangkah ke dalam. Si Bapak
menghampiri Si Bungsu).
87.
Bapak : Bagaimanapun juga, abangmu kini
telah terbebas dari cengkraman tindak khianat.
88.
Bungsu : Oo, Bapak, betapa memelas kemalangan
hidupnya. Betapa memelas.
89.
Bapak : Belas kasihanilah ia, sebagaimana
kita menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwa malang.
(Perwira muncul dengan mengemban jenazah si Sulung yang
sudah diselimuti kain. Si Bapak memberi isyarat agar jenazah diletakkan di
lantai. Si Bungsu masih dengan mata berkaca basah menghampiri jenazah si
Sulung, dan dengan berlutut menyingkap selimut. Ditatapnya wajah jenazah dengan
berlinang. Lalu dengan gemetar, kain diselimutkan lagi menutup wajah jenazah.
Sambil bangkit Si Bungsu menggumam lirih).
90.
Bungsu : Sesungguhnya manusia itu kepunyaan
Tuhan Yang Maha Esa dan kepada-Nya jualahakhirnya manusia kembali.
(Perwira mengeluarkan sebuah notes dari saku
celananya).
91.
Perwira : Ini buku harian mendiang, yang tadi
kutemukan dari sakunya, dan inilah catatan yang terakhir… 18 Januari 1949.
Semua laporan sudah diterima Markas Besar. Beres tinggal tanda OK, besok pagi.
Operasi badai bisa direncanakan menurut rencana X, 19 Januari, jam 12.00. Dropping
zone diperbatasan utara kota, aman. Cukup diterjunkan satu kompi pasukan
paying. Untuk mendobrak pertahanan TNI di jalan raya 1, cukup dikerahkan satu
squadron tank. Sasaran artileri 3 derajat barat laut kota. Keempat batalyon
Tijger Brigade digerakkan serentak, menembus pertahanan sayap kanan-kiri TNI
pada jalan raya 1 dan 2.
92.
Bapak : sekarang tanggal 19 Januari!
93.
Perwira : Kekuatan kita cuma satu batalyon.
Sekarang jam 11.35…
(Terdengar deru pesawat-pesawat terbang. Mereka sama
tersentak).
94.
Bapak : Mereka datang, cepatlah
bertindak! Dan kau anakku, ikutlah bersama bakal suamimu!
95.
Bungsu : Bapak juga…
96.
Bapak : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku
akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai
jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan
memadai untuk itu.
97.
Bungsu : Tidak! Bapak mesti ikut kami.
(Terdengar ledakan bom-bom menggemuruhh, bersusul
tembakan meriam-meriam).
98.
Bapak : Cepat pergilah! Cepat!
(Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan,
cepat-cepat menarik tangan si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti
sejenak di ambang).
99.
Perwira : Selamat tinggal ya, Bapak.
100.Bungsu : Selamatlah, ya, Bapak.
101.Bapak : Selamat berjuang. Berbahagialah.
Lahirkanlah pahlawan-pahlawan! Tuhan bersama kalian. Selamat berjuang!
(Perwira dan Si Bungsu menghilang pergi.
Ledakan-ledakan, tembakan-tembakan kian dekat menggemuruh. Bersusul tembakan
gencar).
(Si Bapak dengan tenang menghampiri jenazah.
Dibukanya kain yang menutup bagian wajah jenazah. Sejenak ditatap dengan penuh
keharuan).
102.Bapak : Damailah ruhmu di alam baka.
Tuhan akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena, sesungguhnya
Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
(Wajah jenazah kembali ditutupkan. Lalu dengan tenang
si Bapak menghampiri meja, mengambil pistol. Tenang membuka kunci pistol. Dan
dengan gerak tenang pula melangkah ke arah ambang dengan senjata).
103.Bapak : Sekarang telah tiba saatnya
bagiku untuk bikin perhitungan dengan si biang keladi yang menimpakkan duka
cerita selama berabad di tanah air. Sekarang telah tiba saatnya bagiku untuk
berikan pengorbananku yang terbesar bagimu, ya, kemerdekaan bumi pusaka!
SELESAI
Dari naskah drama di atas saya melakukan analisis unsur intrinsik dari naskah Bapak karya B. Soelarto, namun analisis dari naskah yang saya teliti, belum sepenuhnya sempurna dan benar, anda harus mengevaluasi hasil analisis yang saya buat. jika anda akan melakukan analisis saya menyediakan contoh analisis di bawah ini.
Unduh Analisis Naskah Drama "Bapak" Karya B. Soelarto disini!!!