Jumat, 03 Februari 2017

BAPAK



Karya
B. Soelarto
-Lakon satu babak-









PARA PELAKU
Bapak              : usia 51 tahun
Sulung             : usia 28 tahun
Bungsu            : usia 24 tahun
Perwira            : usia 26 tahun
  
Bagimu, kemerdekaan bumi pusaka.



            Drama ini terjadi pada 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara colonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan merebut ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta.
Tentara colonial telah pula siap-siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah ibu kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.
Di kota itulah Bapak dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun-tahun merantau tanpa kabar berita.
Si Sulung telah kembali pulang dengan membawa usul yang amat sangat mengagetkan si Bapak.
Waktu itu seputar jam 10.00, Si Bapak yang sudah lanjut usia, jalan hilir mudik dengan membawa beban persoalan yang terus-menerus merongrong pikirannya.
01.    Bapak             : Dia, putra sulungku. Si anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba amat tentram. Hmm, ya, ya, usulnya dapat ku mengerti. Karena ia sudah terbiasa bertahun hidupp di sana. Dalam sangkar, jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelapbutakan oleh nina bobo, lelap-buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakkan oleh suap roti keju. Celaka, oo, betapa celaka nian.

(Si Bungsu senyum mendatang

02.     Bungsu          : Ah, Bapak rupanya sedang ngomong sendiri.
03.    Bapak             : Ya, anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah tadi kau bersama abangmu?
04.    Bungsu           : Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Syang sekali, kami tidak berhasil menjumpai Mas…
05.    Bapak             : Tunanganmu?
06.    Bungsu           : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tidak ada. Kata mereka, ia sedang rapat dinas. He heh, seolah-olah seluruh hidunya tersita untuk urusan-urusan militer saja.
07.    Bapak             : Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan dalam kedaan begini, bagi seorang prajurit kepentingan Negara ada di atas segalanya. Bahkan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya. Tapi, eh, mana abangmu sekarang?
08.    Bungsu           : Oo, rupanya dia begitu rindu pada bumi kelahirannya. Seluruh penjuru kota dipotreti semua. Tapi kurasa abang akan segera tiba. Dan sudahkah Bapak menjawab usul yang diajukannya itu?
09.    Bapak             : Itulah, itulah yang hendak kuputuskan ini, Nak.
10.    Bungsu           : Nah, itu dia!

(Si Sulung datang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kacamata hitam. Terus duduk, melepas kacamata dan meletakkan pesawat potret di meja).

11.    Sulung            : Huhuh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni baju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.
12.    Bapak             : Begitulah Nak, suasana kota yang sedang dicekam keadaan darurat perang.
13.    Sulung            : Ya, pertanda akan hilang keamanan, berganti huru-hara keonaran. Dan, mumpung masih keburu waktu, bagaimana dengan putusan Bapak atas usulanku itu?
14.    Bapak             : Menyesal sekali Nak ….
15.    Sulung            : Bapak menjawab dengan penolakkan, bukan?
16.    Bapak             : Ya.
17.    Bungsu           : Jawaban Bapak sangat bijaksana.
18.    Sulung            : Bijaksana! Ya, kau benar manisku. Setidak-tidaknya demikianlah anggapanmu, karena bukankah secara kebetulan tunanganmu adalah perwira TNI di sini. Tapi maaf, bukan maksudku menyindirmu, Adik sayang.

(Si Bungsu pergi. Si Sulung mengantar dengan senyum)

19.     Bapak            : Nak, pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.
20.    Sulung            : Hmm, lalu? Barangkali karena rumah pusaka ini ya, Bapak?
21.    Bapak             : Sesungguhnyalah Nak, lebih karena itu.
22.    Sulung            : Oo ya? Apa itu Bapak?
23.    Bapak             : Kemerdekaan.
24.    Sulung            : Kemerdekaan? Kemerdekaan apa!
25.    Bapak             : Bangsa dan bumi pusaka.

(Si Sulung ketawa).

26.    Sulung            : Bapak yang baik. Bertahan sudah aku hidup di daerah pendudukan sana bersama awak yang tercinta. Dan aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa jadi budak-belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah ya Bapak, di sana kami hidup merdeka.
27.    Bapak             : Bebaskah kau menuntut kemerdekaan?
28.    Sulung            : Hoho, apa yang mesti dituntut! Kami disana manusia-manusia merdeka.
29.    Bapak             : Bagaimana kemerdekaan menurut kau, Nak?
30.    Sulung            : Hmm, di sana kami punya wali Negara, bangsa awak. Di sana, segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat Negara bangsa awak. Di atas segalanya, kami disana hidup dalam damai. Rukun berdampingan antara si putih dan bangsa awak…
31.    Bapak             : Dan diatas segalanya pula, di sana si putih menjadi yang dipertuan. Dan sebuah bendera asing jadi lambing kedaulatan, lambing kuasa; penjajahan. Dapatkah kau artikan itu suatu kemerdekaan?
32.    Sulung            : Ah, Bapak berpikir secara politis. Itu urusan politik!
33.    Bapak             : Nak, kemerdekaan atau penjajahan selalu soal politik. Selalu merupakan buah politik.
34.    Sulung            : Baik, baik. Tapi ya Bapak. Kita bukan politis
35.    Bapak             : Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang diplomat, seorang negarawan. Dan, justru karena kesadaran dan pengertian politiknya itulah, seorang patriot akan senantiasa membangkang terhadap tiap politik penjajahan. Betapapun manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu, Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah dulu semasa kita masih hidup dalam alam Hindia-Belanda, kita hidup serba kecukupan dalam sandang-pangan. Kesejahteraan idup keluarga dalam suasana aman dan tentram dan masa pension yang enak, sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan?
Tidak, anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan, soal kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku, renungkanlah kebenaran ucapanku ini. Renungkanlah.
36.    Sulung            : Menyesal ya, Bapak. Rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna…
37.    Bapak             : Namun kau Nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab, aku yakin kau akan mampu menemukan titi-simpul kebenaran ucapan itu.
38.    Sulung            : Baik, baik. Itu akan ku renungkan. Mungkin kelak aku akan membenarkan tafsir Bapak. Tapi sekarang ini dan dalam waktu mendatang yang singkat, aku bekum bersedia untuk mempertimbangkannya. Lagi pula, kita sekarang diburu waktu. Karenanya, kumohon Bapak berkenan sekali lagi mempertimbangkan usulku. Setidak-tidaknya, demi kedamaian hidup masa tua Bapak juga. Bahkan, sebenarnya juga demi masa depan adikku satu-satunya itu. tapi karena dia lebih memberati masa nikahnya dengan seorang perwira TNI, terpulanglah pada kehendaknya sendiri. Cuma, telah kupesankan padanya, agar ia segera saja pindah kepedalaman yang masih jauh dari jangkauan peluru meriam. Karena kurasa wajah kota tercintaku ini tak lama lagi akan hancur lebur ditimpa kebinasaan perang.
39.    Bapak             : Nak, apapun yang terjadi aku akan tetap bertahan di sini. Dan bila mereka melanda kota ini, insya Allah akupun akan ikut angkat senjata. Bukan karena rumah atau tanah waris. Tapi, karena kemerdekaan tanah pusaka. Ya, mungkin sekali pembelaanku akan kurang berarti. Namun dalam setitik amal baktiku itulah, kutemukan sisa bahagia dalam sisa usiaku. Dan kalaupun aku mesti mati untuk itu, niscayalah aku ikhlas mati dalam damai di hati.
Nah, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. Bila ada anakku yang yakin bahwa masa depannya di daerah pendudukan akan lebih membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah, bila adikmu mantap mengungsi kesana. Silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan. Karenanya, aku yakin ia tidak akan pernah ragu untuk menentukan kemana cinta hidupnya hendak dibawa. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan seorang perwira TNI yang menjadi dasar timbang-rasa, timbang hatinya. Tapi pengertian cintanya pada kemerdekaan bumi pusaka!
40.    Sulung            : Ah, Bapak terpanggang oleh api sentimen patriotisme. Ya, ya aku memang mengerti, lantaran dulu Bapak pernah jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan, sampai-sampai almarhumah Bunda wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara. Dan, kini rupanya Bapak menimpakkan segala dendam itu pada pemerintahan kerajaan. Bapak, sebaiknya lupakanlah masa lalu. Lupakanlah semua duka cerita itu.
41.    Bapak             : Anakku saying, kebencianku pada mereka. Dulu, sekarang, dan besok, bukanlah dendam pribadi. Tidak! Pembangakanganku dulu, sekarang, dan besok bukanlah karena sentiment, tapi karena keyakinan. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan bahwa membangkang penjajah adalah sutu tindak mulia, tindak hak. Untuk itulah aku rela menderita dan korbankan segalanya, Nak. Aku bangga untuk itu. juga almarhumah bundamu, Nak. Karena ia tahu dan sadar akan arti pengorbanannya. Tidak akan pernah tersia. Meski tak akan ada bintang jasa dan tugu kenangan baginya…
42.    Sulung            : Lepas dari setuju atau tidak, aku kagumi Bapak dalam meneguhi keyakinan. Ya, laepas dari setuju atau tidak, aku kagumi kesabaran dan ketabahan almarhumah bunda. Untuk itulah, aku selalu bangga kepada Bapak dan almarhumah bunda. Juga pada adikku seorang yang begitu tinggi kesadaran pengertiannya, begitu agung cintanya pada kemerdekaan, meski tafsirannya adalah tafsiran yang Bapak rumuskan. Dan ya, kita memang mesti berbangga diri dalam meneguhi cita dan keyakinan masing-masing. Tapi, ya Bapak, usulku taka da sangkut-pautnya dengan masalah kebanggaan-kebanggaan pribadi. Usulku, Cuma untuk keselamatan pribadi!
43.    Bapak             : Kau benar, usulu memang tidak bersangkut paut dengan kebanggaan-kebanggaan pribadi. tapi usulmu itu langsung menyentuh keyakinan-keyakinan pribadi. dan menurut jalan-pikiran keyakinanku, usulanmu itu wajib ditolak. Mutlak! Sebab mengorbankan keyakinan, bagiku nilai rasanya sungguh teramat nista. Tengoklah sejarah, lihatlah betapa para satria muslim syahid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa kaum nasrani begitu pasrah dikoyak-koyak singa zaman Nero. Ya, mereka yang muslim, yang nasrani sama tulus ikhlas mati syahid menurut anggapannya, daripada mengorbankan keyakinan-keyakinan yang mereka teguhi.
44.    Sulung            : Ya, bila memang  Bapak begitu teguh pada pendirian yang Bapak anut, apa boleh buat…
45.    Bapak             : Tapi Nak, izinkan aku tanya, bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah?
46.    Sulung            : Sudah kunyatakan tadi, bahwa antara kita ada perbedaan kutub, perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. Kita menempuh jalan yang beda. Bapak memilih jalan pembangkangan, aku sebaliknya. Satu tragedy. Dan menurut tanggapanku, tragedi yang terjadi dan bakal terjadi di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis, dari pihak yang sekeyakinan denga Bapak.
47.    Bapak             : Sayang sekali Nak, kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, Nak. Kami cinta damai, tapi adalah pasti, lebih memberati kemerdekaan, maka pihak kamipun membenarkan tindak pembangkangan bersenjata. Bagaimana pun juga, kedudukan kami adalah bertahan diri. Nak, sejarah membuktikan bahwa kaum penjajah menjangkahi bumi pusaka kita, merekalah yang menciptakan segala sengketa berdarah antara sesama kita. Politik penjajahan merekalah yang menghasilkan duka cerita di tanah air. Ya, di mana saja. Adalah kaum penjajah yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab atas segala duka-cerita bangsa-bangsa yang terjajah!
48.    Sulung            : Begitu pendapat Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu.
49.    Bapak             : Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah!
50.    Sulung            : Salah bagi Bapak, benar bagiku. Dan, aku sadar benar akan itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia menanggung risikonya.

(Si Sulung cepat melangkah kedalam).

51.    Bapak             : Ya, memang keyakinan tidak bisa dipaksakan. Tidak juga bagi seorang Bapak kepada anak kandung sendiri. Namun bagaimanapun jua, aku telah mengingatkannya.

(Dari dalam rumah terdengar suara-suara isyarat pesawat pemancar isyarat. Bapak tersentak keheranan. Dan dengan penuh curiga si Bapak melangkah ke dalam).

(Si Bungsu muncul dengan mencangklong tas penuh  berisi bungkusan makanan dan sayur-mayur)

52.    Bungsu           : Ee, kemana semua ini.

(Di luar orang kedengaran mengetuk-ngetuk pintu).

53.    Bungsu           : oo, Mas. Mari Mas silakan masuk.

(Perwira muncul beriring senyum bersambut senyum si Bungsu).

54.    Perwira           : Maafkan, aku tidak sempat menemui…
55.    Bungsu           : Lupakanlah. Yang penting Mas sekarang sudah berada di sini.
56.    Perwira           : Di mana abangmu, Dik? Tentulah dia amat jengkel padaku, bukan? Kenapa sejak kedatangannya di sini, ia selalu tidak berhasil dalam usahanya mengenalku. Ya, akupun sangat ingin mengenalnya. Dapatkah kini aku yang memperkenalkan diri?
57.    Bungsu           : Tentu, dan itu sudah kewajibanmu, Mas…

(mendadak dari dalam kedengaran suara tembakan pistol beberapa kali. Si Bungsu dan Perwira tersentak kaget).

58.    Bungsu           : Kau dengar, Mas?
59.    Perwira           : Tembakan pistol!
60.    Bungsu           : Dari dalam rumah…
61.    Perwira           : Ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana. Adakah Bapak memiliki senjata api itu, Dik?
62.    Bungsu           : Setahuku tidak.
63.    Perwira           : Abangmu, Barangkali?

(Si Bapak mendadak muncul dengan pistol di tangan kanan dan sebuah map tebal di tangan kiri. Mereka saling menatap dengan heran, tegang si Bapak meletakkan map di atas meja. Pistol diletakkan diatasnya).

64.    Bapak             : Pistol ini milik putra Sulungku…
65.    Bungsu           : Bapak, apa yang terjadi!
66.    Bapak             : Aku… Aku telah menembak mati Abangmu, anak kandungku pribadi.

(Si Bungsu menjerit).

67.    Bungsu           : Tapi,… tapi bagaimana mungkin Bapak bertindak begitu…
68.    Bapak             : Bagaimana juga, aku telah menembak dengan kesadaran.
69.    Bungsu           : Apa… apa dosa abangku seorang!

(Si Bapak tenang duduk, berusaha menguasai diri. Lalu menatap kea rah Perwira yang masih terpaku keheranan).

70.    Bapak             : Nak, lihatlah ada alat-alat apa saja di kamar dalam sana!
71.    Bungsu           : Bapak, jawablah tanyaku tai. Katakanlah apa dosa, apa salah abang?

(Si Bapak terdiam, si Bungsu terisak pilu. Perwira cepat pergi ke dalam. Sejenak sepi selain sedu sedan si Bungsu. Kemudian perwira juga muncul dengan wajah memucat, tangan kanan mencangklong alat peneropong. Tangan kiri mengapit lipatan peta militer dan pistol isyarat).
72.    Bapak             : Apa saja yang kau temukan disana?
73.    Perwira           : Sebuah alat pesawat pemancar-isyarat radio. Dan yang kubawa ini…

(Barang-barang diletakkan di atas meja).

74.    Perwira           : Pistol isyarat. Peta militer yang secara terperinci menggambarkan denah kota ini, lengkap dengan tempat-tempat instalasi militer, kubu-kubu pertahanan kita disini.

(Si Bapak menoleh ke arah si Bungsu yang masih tersedu).

75.    Bapak             : Kau dengar sendiri, Nak? Abangmu, seorang penghianat.

(Si Bapak gemetar tubuhnya, dan suaranya menggemetarlah).

76.    Bapak             : Dia anak kandungku, penghianat!

(Mata si Bapak terkaca basah, berulang kali menggumam kata “Penghianat”. Dengan menahan amarah campur kepedihan hati. Si Bapak mengeluarkan sebuah potret ukuran kartu pos dari dalam map yang tapi di bawanya. Potret diperlihatkan kepada Si Bungsu dan Perwira).

77.    Bapak             : Lihat-lihat! Dia dalam seragam tentara colonial, dengan pangkat letnan! Lengkap dengan bintang-bintang jasa khianatnya menghiasi dada.

(Si Bungsu menghentikan sedu-isakannya. Cepat merebut potret dari tangan si Bapak. Gemetar si Bungsu menatap potret. Kemudian seolah potret itupun terlepas sendiri jatuh ke lantai. Si Bungsu menutupkan kedua tangannya pada wajahnya beriring suara melengking parau).

78.    Bungsu           : Abang!
79.    Bapak             : Tak perlu ia diratapi lagi, Nak.

(Si Bungsu dengan mata  terkaca basah mengangguk pela sambil menahan kerunyaman hatinya. Dan deraian air mata kepedihannya).
(Si Bapak mengambil map, diserahkannya kepada Perwira yang masih tertegun dengan wajah yang muram).

80.    Bapak             : Bawa! Di dalamnya, penuh dengan dokumen rahasia-rahasia militer. Mungkin sekali juga, kunci-sandi dinas-rahasia tentara colonial. Sebab dia ternyata seorang opsir dalam Dinas Rahasia Tentara Kerajaan.

(Perwira menerima map).

81.    Bapak             : Nak, izinkan kubertanya. Apa yang akan kalian lakukan terhadapnya sekiranya ia tertangkap kalian?
82.    Perwira           : Hukum tembak sampai mati.
83.    Bapak             : Itu sudah terlaksana, dengan tanganku pribadi.
84.    Bungsu           : Tapi, mengapa Bapak sendiri yang menghakimi?
85.    Bapak             : Karena, dia anak kandungku pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya, karena cintaku itulah, aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya, langkah khianatnya. Harus ya, wajib dihentikan. Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya, aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya, berakhirlah pula kerja nistanya sebagai penghianat. Ya, sekali ini aku memaksakan kehendakku pada anak kandungku sendiri. Dan, dengan kekerasan  dalam bentuk pembunuhan! Itu kulakukan dalam bentuk dorongan dendam. Tanpa semangat kebencian pada diri almarhum. Dan itu akan kupertanggungjawabkan, dunia akhirat. Dia anak kandungku pribadi. Tapi cinta kebapakan ku ada batasnya. Karena aku lebih cinta kepada kemerdekaan bangsa dan bumi pusaka. Dan bagimu kemerdekaan, sekali anak kandungku kujadikan tumbal sesaji. Bila saja ia pahlawan, hendaknya gugurlah syahid di pangkuan ibu kemerdekaan. Bila ia penghianat, matilah ia ditanganku pribadi. Dan celakalah ia, karena ia telah memilih kematian yang paling aib. Mati dalam khianat.

(Si Bapak menoleh kea rah Perwira).

86.    Bapak             : Tolonglah Nak, bawa kemari jenazah almarhum.

(Perwira cepat melangkah ke dalam. Si Bapak menghampiri Si Bungsu).

87.    Bapak             : Bagaimanapun juga, abangmu kini telah terbebas dari cengkraman tindak khianat.
88.    Bungsu           : Oo, Bapak, betapa memelas kemalangan hidupnya. Betapa memelas.
89.    Bapak             : Belas kasihanilah ia, sebagaimana kita menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwa malang.

(Perwira muncul dengan mengemban jenazah si Sulung yang sudah diselimuti kain. Si Bapak memberi isyarat agar jenazah diletakkan di lantai. Si Bungsu masih dengan mata berkaca basah menghampiri jenazah si Sulung, dan dengan berlutut menyingkap selimut. Ditatapnya wajah jenazah dengan berlinang. Lalu dengan gemetar, kain diselimutkan lagi menutup wajah jenazah. Sambil bangkit Si Bungsu menggumam lirih).

90.    Bungsu           : Sesungguhnya manusia itu kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada-Nya jualahakhirnya manusia kembali.

(Perwira mengeluarkan sebuah notes dari saku celananya).

91.    Perwira           : Ini buku harian mendiang, yang tadi kutemukan dari sakunya, dan inilah catatan yang terakhir… 18 Januari 1949. Semua laporan sudah diterima Markas Besar. Beres tinggal tanda OK, besok pagi. Operasi badai bisa direncanakan menurut rencana X, 19 Januari, jam 12.00. Dropping zone diperbatasan utara kota, aman. Cukup diterjunkan satu kompi pasukan paying. Untuk mendobrak pertahanan TNI di jalan raya 1, cukup dikerahkan satu squadron tank. Sasaran artileri 3 derajat barat laut kota. Keempat batalyon Tijger Brigade digerakkan serentak, menembus pertahanan sayap kanan-kiri TNI pada jalan raya 1 dan 2.
92.    Bapak             : sekarang tanggal 19 Januari!
93.    Perwira           : Kekuatan kita cuma satu batalyon. Sekarang jam 11.35…

(Terdengar deru pesawat-pesawat terbang. Mereka sama tersentak).

94.    Bapak             : Mereka datang, cepatlah bertindak! Dan kau anakku, ikutlah bersama bakal suamimu!
95.    Bungsu           : Bapak juga…
96.    Bapak             : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadai untuk itu.
97.    Bungsu           : Tidak! Bapak mesti ikut kami.

(Terdengar ledakan bom-bom menggemuruhh, bersusul tembakan meriam-meriam).

98.    Bapak             : Cepat pergilah! Cepat!

(Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik tangan si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang).

99.    Perwira           : Selamat tinggal ya, Bapak.
100.Bungsu           : Selamatlah, ya, Bapak.
101.Bapak             : Selamat berjuang. Berbahagialah. Lahirkanlah pahlawan-pahlawan! Tuhan bersama kalian. Selamat berjuang!

(Perwira dan Si Bungsu menghilang pergi. Ledakan-ledakan, tembakan-tembakan kian dekat menggemuruh. Bersusul tembakan gencar).
(Si Bapak dengan tenang menghampiri jenazah. Dibukanya kain yang menutup bagian wajah jenazah. Sejenak ditatap dengan penuh keharuan).

102.Bapak             : Damailah ruhmu di alam baka. Tuhan akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena, sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

(Wajah jenazah kembali ditutupkan. Lalu dengan tenang si Bapak menghampiri meja, mengambil pistol. Tenang membuka kunci pistol. Dan dengan gerak tenang pula melangkah ke arah ambang dengan senjata).

103.Bapak             : Sekarang telah tiba saatnya bagiku untuk bikin perhitungan dengan si biang keladi yang menimpakkan duka cerita selama berabad di tanah air. Sekarang telah tiba saatnya bagiku untuk berikan pengorbananku yang terbesar bagimu, ya, kemerdekaan bumi pusaka!


SELESAI



Dari naskah drama di atas saya melakukan analisis unsur intrinsik dari naskah Bapak karya B. Soelarto, namun analisis dari naskah yang saya teliti, belum sepenuhnya sempurna dan benar, anda harus mengevaluasi hasil analisis yang saya buat. jika anda akan melakukan analisis saya menyediakan contoh analisis di bawah ini.

Unduh Cover Analisis Naskah Drama "Bapak" karya B. Soelarto
Unduh Analisis Naskah Drama "Bapak" Karya B. Soelarto disini!!!