Minggu, 22 Maret 2026

 

GURU SABLENG

Matahari baru saja menggeliat dari balik perbukitan ketika kaki ini terasa seberat timah. Ada rasa enggan yang mendidih di ulu hati, sebuah keinginan purba untuk meringkuk kembali di bawah sarung, mengabaikan dunia yang menuntut kewarasan semu. Namun, bayangan wajah-wajah mungil dengan ingus yang mengering di pinggir bibir, mata-mata bening yang menyimpan harapan setinggi langit, tiba-tiba menyeruak. Seketika, rasa malas itu berubah menjadi rasa malu yang membakar. Tolol, batinku. Benar-benar tolol kalau aku membiarkan mereka menunggu di bawah pohon talas hanya karena ego yang sedang merajuk. Aku bangkit. Bukan untuk mengenakan seragam safari cokelat yang kaku dan berbau kamper, melainkan mengambil kemeja flanel kumal dengan kancing yang tak lengkap. Rambutku? Kubiarkan ia merdeka, acak-acakan serupa semak belukar yang tak tersentuh parang. Sepatuku bukan pantofel hitam mengkilap hasil semiran setiap pagi, melainkan sepatu bot kain berwarna awan yang sudah jebol di bagian ibu jari. Inilah aku. Jangan panggil aku "Pak Guru", apalagi "Pak Ustad" dengan beban kesucian yang membuat pundakku miring. Panggil saja aku "Guru Sableng". Sebab, di dunia yang mengagungkan topeng, kejujuran seringkali dianggap sebagai gangguan jiwa.

Di kampung ini, orang-orang tua sering bergumam sambil mengunyah sirih, "Guru itu digugu dan ditiru." Mereka bicara seolah guru adalah nabi tanpa cacat. Tapi bagiku, itu beban yang terlalu angkuh untuk dipikul manusia biasa yang masih gemar makan mendoan di pinggir jalan.

"Anak-anak!" teriakku di tengah lapangan rumput yang becek.

"Hari ini kita tidak masuk kelas. Kelas itu sempit, pengap, dan hanya membuat otak kalian tumpul seperti parang karatan!"

Mereka bersorak. Bagi anak-anak desa, kebebasan adalah kemewahan. Kami berjalan menuju sungai. Di sana, di atas batu-batu kali yang besar, kami belajar tentang gravitasi dari air yang jatuh, tentang harmoni dari kicau burung kutilang, dan tentang kesabaran dari lumut yang merayap pelan.

"Dengar,"

Kataku sambil bertengger di dahan pohon beringin, mengabaikan tatapan sinis kepala sekolah yang kebetulan lewat dengan motor bebeknya.

"Percayai apa yang baik padaku. Jika kalian melihatku jujur, tirulah. Tapi jika kalian melihatku berbohong, ketahuilah itu hanya caraku melindungi kalian dari dunia yang lebih jahat. Dan jika aku melakukan hal buruk, jadikan itu cermin retak yang tak boleh kalian gunakan untuk bersolek. Paham?"

"Paham, Guru Sableng!"

Sahut mereka serempak, tawa mereka pecah menyatu dengan gemericik air.

Seringkali, rekan sejawatku pamer tentang "memberikan ilmu". Aku hanya tersenyum kecut. Ilmu apa yang bisa diberikan manusia? Apakah kita pemilik pabrik pengetahuan?

"Ilmu itu milik Tuhanmu," ujarku suatu sore saat berdiskusi dengan sesama guru yang tampak rapi dengan dasi mencekik leher.

"Kita ini bukan pemberi ilmu. Kita ini hanya penunjuk jalan. Seperti tukang parkir yang mengarahkan kendaraan agar tidak tabrakan. Selebihnya? Itu urusan rahmat Tuhan dan usaha si anak."

Guru-guru lain menganggapku gila. Mungkin benar. Karena bagiku, mendidik bukan berarti mendikte. Aku tidak ingin mereka menjadi robot yang hafal tahun pecahnya perang, tapi tidak tahu cara mencintai tanah yang mereka injak. Aku ingin mereka menjadi manusia.

Meski aku belum menikah, mereka adalah anak-anakku. Darahku memang tidak mengalir di nadi mereka, tapi setiap doa yang kupanjatkan di sepertiga malam, saat aku melepaskan atribut kesablenganku, selalu ada nama-nama mereka di sana.

"Ya Tuhan," bisikku pada kesunyian desa.

"Bimbinglah mereka. Jangan biarkan mereka menjadi waras seperti orang-orang yang kehilangan kemanusiaannya demi pangkat. Biarkan mereka tetap sedikit 'sableng' agar tetap punya hati."

Aku sadar, cara berpakaianku, gaya rambutku, dan pilihanku untuk tidak patuh pada "syariat sepatu hitam" adalah bentuk pemberontakan kecil terhadap sistem yang lebih mementingkan bungkus daripada isi. Kewarasan yang mereka sepakati seringkali hanyalah keseragaman yang mematikan kreativitas.

Siang itu, udara seperti berhenti bergerak. Panas menyengat khas tanah Jawa yang sedang menanti kiriman hujan. Aku duduk di akar pohon Pule yang besar, sementara belasan anak-anak mengerumuniku. Mereka tidak memegang pena. Mereka memegang ranting kering.

"Lihat semut itu," tunjukku pada sebaris mahluk kecil yang sedang menggotong bangkai belalang di sela akar.

Sodik, muridku yang paling dekil tapi punya mata paling tajam, berjongkok hingga hidungnya hampir menyentuh tanah.

"Mereka tidak ada gurunya, tapi kenapa jalannya bisa rapi, Pak Guru Sableng?"

Aku terkekeh, mencabut sebatang rumput dan menggigit ujungnya yang manis.

"Itulah bedanya. Semut punya perintah Tuhan yang sudah menyatu dalam darahnya. Mereka tidak butuh ijazah untuk tahu cara bekerja sama. Manusia? Manusia seringkali butuh sekolah bertahun-tahun hanya untuk belajar cara mengkhianati temannya sendiri."

Sodik terdiam. Ia menatapku dengan kening berkerut.

"Lalu kenapa kita harus belajar kalau semut saja lebih pintar tanpa sekolah?" Aku bangkit, mengacak rambut Sodik yang sudah sama berantakannya dengan rambutku.

"Kita belajar bukan untuk jadi lebih pintar dari semut, Dik. Kita belajar supaya kita tidak kehilangan 'kemanusiaan' kita. Supaya kalian tahu bahwa ilmu yang kalian dapat itu bukan milik kalian. Itu titipan. Kalau kalian merasa punya ilmu lalu jadi sombong, kalian lebih rendah dari semut-semut itu."

Sore harinya, saat kami bersiap pulang, seorang pria berpakaian rapi dengan motor yang mengkilap berhenti di pinggir jalan setapak. Pak Broto, pengawas sekolah yang selalu wangi parfum melati namun bicaranya setajam sembilu. Ia memandangiku dari ujung rambut hingga ujung sepatu bot kainku yang compang-camping. "Iwan," panggilnya itu nama asliku, nama yang jarang kudengar karena terkubur sebutan 'Sableng'.

"Apa tidak bisa kau sedikit saja menghormati profesimu? Lihat sepatumu. Lihat rambutmu. Bagaimana anak-anak mau meniru kalau gurunya seperti gelandangan?"

Aku tersenyum, tipe senyum yang paling dibenci orang-orang waras karena terasa seperti ejekan.

"Pak Broto yang terhormat," kataku pelan, sambil membersihkan tanah dari sepatuku.

"Anak-anak ini sudah terlalu sering melihat orang memakai sepatu hitam mengkilap tapi kakinya suka menendang hak orang kecil. Mereka sudah bosan melihat orang berbaju rapi tapi hatinya penuh rayap. Saya hanya ingin mereka tahu, bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh merk sepatu atau rapinya sisiran rambut." Pak Broto mendengus, wajahnya memerah.

"Tapi ada aturan! Guru itu digugu lan ditiru!"

"Betul," sahutku tenang.

"Maka saya katakan pada mereka, Tiru yang baik dari saya, dan jadikan yang buruk dari saya sebagai peringatan. Saya tidak sedang mencetak malaikat di sini, Pak. Saya sedang membimbing manusia. Dan manusia itu tempatnya salah. Kalau saya berlagak sempurna di depan mereka, saya sedang mengajarkan kebohongan yang paling nyata." Pak Broto pergi dengan gerungan mesin motornya yang sombong, meninggalkan debu yang menempel di wajah-wajah muridku

 Sodik masih berdiri di sana, melihat kepergian pengawas itu. Ia lalu menatapku.

"Pak, tadi bapak bilang ke Pak Broto kalau bapak tidak sempurna. Memang apa yang tidak baik dari bapak?"

Aku duduk kembali di atas batu, menarik napas panjang. Bau tanah basah mulai tercium, hujan akan segera turun.

"Banyak, Dik. Aku malas bangun pagi. Aku kadang ingin lari dari tanggung jawab. Aku sering merasa tolol karena masih peduli pada kalian sementara dunia lebih menghargai angka-angka di atas kertas daripada tawa kalian. Itu semua tidak patut kau tiru."

Aku menatap matanya yang bening.

"Tapi, jika kau melihat aku mencintai kalian dengan tulus, meski aku bukan ayah kandung kalian, tirulah itu. Jika kau melihat aku berani berkata jujur di depan orang yang lebih kuat, tirulah itu. Selebihnya, mintalah pada Gusti Allah agar kalian diberi jalan yang lebih lurus daripada jalannya gurumu yang sableng ini."

Hujan benar-benar jatuh. Satu-satu, lalu menderas. Anak-anak itu berlarian di bawah guyuran rahmat Tuhan, berteriak kegirangan. Di sana, di antara tawa dan basah kuyup, aku melihat masa depan yang tidak terkungkung oleh tembok kelas yang pengap. Aku bukan pemberi ilmu. Aku hanya seorang lelaki kurang waras yang sedang jatuh cinta pada kemurnian jiwa mereka. Dan dalam doa yang basah itu, aku bersyukur karena masih punya alasan untuk tidak menjadi "waras" di dunia yang sudah gila ini. Hujan yang turun kemarin menyisakan kubangan di sana-sini, namun suasana di desa tidak sedingin airnya. Kabar buruk merambat lebih cepat daripada aroma masakan di dapur-dapur warga. Sodik, muridku yang matanya paling tajam itu, tidak terlihat di bawah pohon Pule. Ia juga tidak ada di pematang sawah. Kabar yang kudengar membuat dadaku sesak: Sodik tertangkap basah mencuri di toko kelontong milik Haji Jafar, orang terkaya sekaligus paling disegani di desa ini karena kedermawanannya yang sering kali dibarengi dengan ketegasan yang tak kenal ampun. Aku berlari dengan sepatu bot kainku yang berat karena lumpur. Rambutku yang acak-acakan semakin kusut tertiup angin. Di depan toko Haji Jafar, kerumunan sudah menyemut. Ada amarah yang menggantung di udara. Sodik bersimpuh di tanah, kepalanya menunduk dalam-dalam, sementara tangannya gemetar memegang sebuah kotak pensil kayu yang sederhana.

Guru Sableng datang!" bisik seseorang di kerumunan.

Haji Jafar berdiri dengan angkuh, memegang kerah baju Sodik yang kumal.

"Lihat ini, Iwan! Inikah hasil didikanmu di bawah pohon itu? Anak ini mencuri! Dia bilang dia butuh kotak pensil untuk ujian besok, tapi mencuri tetaplah mencuri. Hukum harus ditegakkan. Aku akan membawanya ke kantor polisi di kecamatan!" Sodik terisak.

Di mata anak itu, aku melihat kiamat kecil. Jika ia masuk penjara atau sekadar dicap pencuri oleh seluruh desa, tamatlah masa depannya. Aku maju, tidak dengan amarah, tapi dengan tawa kecil yang terdengar sumbang. Tawa seorang yang "kurang waras". Aku berdiri tepat di depan Haji Jafar, mengabaikan tatapan jijik warga pada penampilanku.

"Haji," kataku pelan,

"Saya memang sableng, tapi saya tidak buta. Sodik salah. Dia sangat salah."

Haji Jafar tersenyum penuh kemenangan.

"Nah, kau dengar itu, Sodik? Gurumu saja mengakui!"

"Tapi," lanjutku, suaraku meninggi sehingga semua orang bisa mendengar, "Saya ingin menuntut orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini. Orang yang membiarkan seorang anak yatim piatu kelaparan akan alat tulis hingga ia kehilangan akal sehatnya."

"Siapa?" tanya Haji Jafar kasar.

Aku menunjuk dadaku sendiri dengan jempol.

"Saya. Dan kalian semua."

Kerumunan mendadak sunyi. Hanya suara gesekan daun pisang yang terdengar. "Saya gurunya, tapi saya gagal melihat bahwa kotak pensilnya sudah hancur bulan lalu. Saya terlalu sibuk bicara soal Tuhan dan alam sampai lupa bahwa perut dan tasnya kosong,"

Kataku dengan nada pahit.

"Dan Haji Jafar, Anda adalah orang paling waras di desa ini. Kewarasan Anda membuat Anda membangun pagar tinggi agar tidak melihat tetangga yang kekurangan. Kewarasan warga di sini membuat kalian lebih peduli pada rapinya seragam sekolah daripada tahu apakah anak ini sudah sarapan atau belum."

Aku merogoh saku flanelku, mengeluarkan beberapa lembar uang lecek hasil sisa gaji yang tak seberapa. Aku meletakkannya di atas meja dagangan Haji Jafar.

"Ini bayaran untuk kotak pensil itu. Dan ini..."

Aku melepas sepatu bot kainku yang jebol, menyisakan kaki telanjang yang kotor oleh tanah,

"ini adalah jaminan saya. Jika Sodik mencuri lagi, silakan ambil kaki saya. Tapi hari ini, biarkan dia pergi. Dia bukan pencuri, dia hanya seorang anak yang sedang tersesat mencari alat untuk menuliskan masa depannya."

Haji Jafar terdiam. Matanya beralih dari uang lecek itu ke kakiku yang telanjang, lalu ke arah Sodik yang masih gemetar. Keangkuhan di wajahnya perlahan luruh, digantikan oleh rasa malu yang merayap pelan.

Haji Jafar melepaskan kerah baju Sodik. Ia menghela napas panjang, lalu mengembalikan uang lecek itu ke tanganku.

"Ambil uangmu, Iwan. Dan ambil sepatumu yang bau itu," gumamnya, meski ada nada hormat yang terselip di sana.

"Bawa anak ini pergi. Didik dia agar tidak perlu lagi melakukan hal memalukan seperti ini."

Aku memegang bahu Sodik, membantunya berdiri. Kami berjalan menjauh dari kerumunan tanpa alas kaki. Di bawah rindang pohon bambu, Sodik menangis sejadi-jadinya.

"Maaf, Pak Guru Sableng... saya malu," isaknya.

Aku berjongkok, menyamakan tingginya dengan posisiku.

"Tadi aku bilang apa di kelas? Jika ada yang tidak baik padaku, itu contoh yang tidak patut kalian tiru. Tapi hari ini, Sodik, kaulah yang memberikan contoh buruk itu. Jangan ditiru lagi, bahkan oleh dirimu sendiri."

Aku mengambil kotak pensil kayu itu dari tangannya.

"Ilmu itu milik Tuhan, Dik. Dan Tuhan tidak suka jika jalan menuju ilmu-Nya ditempuh dengan cara yang kotor. Tapi ingat, Tuhan juga Maha Pengampun bagi mereka yang mau belajar dari 'kesablengan' masa lalunya."

Malam itu, aku duduk di teras rumah kayu kecilku. Kaki telanjangku terasa dingin, tapi hatiku hangat. Aku teringat kata-kata orang,

"Guru itu mendidik, bukan mendikte." Terkadang, mendidik berarti harus berani menjadi tameng bagi kesalahan muridmu, agar mereka punya kesempatan untuk memperbaikinya. Menjadi "kurang waras" di mata dunia sering kali adalah satu-satunya cara untuk tetap menjaga kewarasan nurani. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan dipanggil Guru Sableng. Aku tidak tahu apakah rambutku akan pernah disisir rapi atau sepatuku akan berubah menjadi hitam mengkilap. Tapi satu hal yang pasti: selama masih ada anak-anak yang menatapku dengan harapan, aku akan terus berangkat ke sekolah,  entah itu di dalam kelas yang pengap atau di bawah langit yang luas. Sebab bagi seorang Guru Sableng, ilmu bukan untuk diberikan, tapi untuk diarahkan agar sampai pada ridho-Nya.