Pementasan Tangan
dalam Pementasan
buah tangan : Iwan Kurniawan
10 November, malam itu dingin,
dingin sekali. semua kedinginan, dinginpun menerus ke tulang rusuk, sampai
segar daging busuk ini. Aku berjaket, dan yang lainnyapun pakai hingga
dinginnya tak terlalu terasa, hanya saja dingin itu masuk sedikit demi sedikit
dari celah yang tak dibalut kain jaket.
Di samping, tepatnya samping kiri
ada wanita tak berkain tebal. awas wanita itu bukan waria, wanita itu ya wanita
pada umumnya. bergincu, berambut, bernafas, bernyawa, berdada, dan berkemaluan
seperti wanita lainnya. Menyebalkan, wanita itu kedinginan. lantas apa yang
harus aku lakukan? kutanggalkan jaket? lantas aku kedinginan, tak kutanggalkan
jaket, sikap wanitapun bagai anak kurus minta ditetei ibunya. Entah
setan entah malaikat berbisik ke telinga kanan dan kiri, lalu berujar "kau
itu laki-laki tak mungkin mati, gegara dingin! sekarang tanggalkan jaket lantas
berikan kepada wanita itu, jangan jadi pengecut! sembunyi di balik kehangatan,
jadilah bayangan meski diinjak-injak tak mau balik menginjak. Bukan hanya itu terkadang laki-laki harus melindungi sesuatu,
walaupun dia harus membuang kehormatannya sendiri!" begitulah
ujaran dalam imajiku.
Tanpa
pikir kutanggalkan jaket, tinggal kaos tipis yang ku pakai, sebab tak kuat aku
melihat dia kedinginan.
bodohnya
wanita itu menolak, padahal tolakannya hanya kebohongan ujar dengan bumbu bodoh
dari kata-kata. dengan nada seorang paskibra yang pas-pasan, kupaksa agar
dipakai itu jaket. tak berani mengelak, sebab sudah kutanggalkan jaketku.
Jaketpun dipakai juga. Hanya
karena tidak meminta tolong, bukan berarti dia tidak ingin ditolong. Hanya
karena dia tidak bilang cinta, bukan berarti dia tidak mencintaimu. Siapa pun
punya hal yang tak bisa dikatakan walaupun ingin dikatakan. Itu kalimat yang
kudapatkan dari sebuah manga dari Jepang, dan mempekakan aku terhadap keadaanku
dengannya.
Wajahnya
tak lesu usai mengenakan jaket, seperti ada pelukan kasih sayang seorang ibu
kepada anaknya, begitu hangat…hangat…hangat.....hangat benar. bahkan, hangat
sangsurya dibawah hangat ini sangat dalam hangatnya sampai terasa di nadi kita. senyum
aku melihat wanita itu dalam kehangatan. Akantetapi beberapa detik tik-tok-tik-tok, sampai detik-detik
itu berkumpul bak nasi mengisi bakul, bersatu menyatu padu menjadi menit-menit
berbelit bersama waktu yang berlalu, hangat yang terkumpul sebelum jaketku
ditanggalkan habis terkikis dingin, gemetar dari ujung kuku menuju ujung bulu
hitam kepala. tangan, kaki, dada, kepala, punggung dan juga seluruh anggota
tubuh hingga menerus dan menusuk tulang belulang, hingga hinggap pada organ-organ
dalam tubuh berbungkus kulit dingin, dingin sedingin-dinginnya dingin dalam
dingin kedinginan.
Aku
percaya perlakuanku padanya, bisa suka, bisa sayang, bisa cinta, bisa juga
hanya nafsu belaka. Seharusnya aku bertanya setelah merayu, tapi degup hati ini
sangat lemah lazimnya ikan didaratan hanya loncatan-loncatan tak berarah yang
dilakukan. Apakah ini semua karena dinginnya menembus daging? menerobos urat
nadi melalui aliran-aliran darah? lantas beredar lalu berputar-putar pada tubuh
yang gemetar ? entahlah, mungkin hanya dingin
.
Dalam
anganku aku berkata
"aku
hanya ingin genggaman tangan wanita bodoh, wanita bodoh bertangan tidak hangat,
namun setidaknya menghangatkan jiwa, hati, dan suasana ini".
Seperti
peribahasa hendak ditelan termengkalan, hendak diludah tiada keluar. Begitulah
aku, bingung sebingung bingungnya orang bingung yang berkeinginan memiliki
genggaman sejalan.
Jari-jari tak henti-henti menari ke
kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai
sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya
meski ditutupi jaket yang kuberi. Merah pipi kanan kirinya seperti itu pula
pipi kanan kiriku. Merah bagai senja berhiaskan lembayung diatas gunung sebelah
barat.
Kesudahan itu aku tarik tangannya
sampai keluar dari bungkusan jaket yang menghalangi kulit tangan kami. Mungil serta
mulus tangan itu sampai nyaman ku genggami. Tapi membadai burung atas langit,
merendah diharap jangan. Maksudnya jangan aku mengharap sesuatu lebih, seusai
menggenggam tangannya, takut akan sia-sia dan hanya menimbulkan kekecewaan
belaka. Mengapa begitu karena wanita itu berontak gertak padaku dingin, setelah
keluar tangan mungilnya dari jaket.
“dingin wan!” ujarnya
Jawabku “tak apa, sebentar lagi juga tangan kita saling
menghangatkan, percayalah!”
Diam hanya diam seusai kulontarkan
dialog bodoh juga memaksa itu, sampai aku mengalah, sampai kulepaskan
tangannya. Ini pukulan bagi seorang pria, bagai pernyataan cinta ditolaknya. Memang
dunia tidak berputar sesuai keinginanku, dan juga dengan wanita ini, aku tak
bisa mengaturnya seenakku saja, tak bisa kupaksa seinginku saja.
Aku tak boleh depresi hanya karena sesuatu, seperti cuma
ditolak. Kalau dia tidak membutuhkanku, aku akan menjauh. Tapi jika terjadi
apa-apa padanya, keselamatannya akan aku pastikan. Selama ini aku mencari hal
nyata di dunia ini. Bagiku, hal yang nyata itu adalah kehangatan dari genggaman
tanganmu, dan aku yakin itu. Meski penolakkan kurasakan di awal. Ini tidak
membuatku menyerah, melainkan cambuk untuk terus berada dalam genggam, ya dalam
genggam tanganmu.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri,
mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan
ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski
ditutupi jaket yang kuberi. Tak merah lagi pipi kami, walau tangannya dalam
peluk tanganku. Sayang beribu sayang, pertunjukan yang kami apresiasi sudah
waktunya untuk istirahat dalam tenggang waktu 15 menit. Kami berhenti saling
menghangatkan jiwa melalui tangan, dengan ketakutan dilihat kawan dari kiri
maupun kanan.
Diluar ruang
pementasan aku seperti dibutakan dalam gelap, kulihat hanya wanita yang
menghangatkan tanganku saja tak ada wanita lain tak ada satupun.
Jadi ingin kopi pikirku. Kubeli satu
gelas kopi harganya 7000 rupiah, 3 kali lipat disbanding harga kopi tempatku
biasa beli, mahal benar kopi disini pikirku. Tak apalah sekali-kali kopi diatas
harga rata-rata. Di lobby kami berbincang tentang pementasan kecoa bersama
panasnya suhu meski hujan beribu-ribu mengguyur tanah yang tabu, bersama dosen
kakak tingkat dan kawan sejalan kala itu. Mungkin 15 menit sudah berlalu dan
goong berbunyi 2 kali, kopipun belum kuhabisi masih setengah gelas juga panas.
Kami semua bergegas masuk kembali menyaksikan pertunjukan. Sebelum masuk hati
ini tak tenang dag-dig-dug, berpikir apakah tangan wanita mau memeluk tanganku
kembali? Apakah mau? Atau malah menghindar dan jiji pada tanganku yang kasap
serta kasar? Atau sebaliknya, sama inginnya dengan inginku utuk memelukkan
tangan-tangan kita? Entahlah pikiran itu bisa terlaksana ketika sudah duduk
bersama, kita lihat saja nanti.
Sampai datang aku pada baris-baris kursi
yang sudah berisi, begitupun tempatku duduk di kursi dengan nomor U-25,
disampingnya kursi bernomor U-26 disanalah wanita itu duduk disamping kiri
tempatku duduk. Duduklah aku disana, sambil mencari-cari roti yang kubawa dalam
tas berisi buku-buku yang jangan sampai
dicuri, hingga kutemukan roti itu, kubuka dan kumakan sedikit lalu
kutawarkan.
“roti, mau?” dengan memelas berharap dia
mau.
“tidak wan, masih kenyang aku”
“yakin kau tak mau? Aku sudah kenyang
lo”
“apa sih wan, aku masih kenyang serius!”
“yasudah kalau tak mau, aku makan
sendiri saja”
Sambil berharap wanita itu mau memakan
roti yang kuberi, tapi tak sadar diri dia sudah ditawari tak mau pula, padahal
aku yakin dia masih lapar! Hey para pembaca apa kalian tahu apa ingin dalam
pikirku? Ya, ya, inginku adalah menyuapi dia dengan roti haha tak apalah
jikalau ia tak mau. Rotipun habis bak tanah diiris air hujan, atau erosi dalam
istilah geologi. Degup jantung dag-dig-dag-dig-dag-dig-dug canggung aku tanya sesuatu
padanya, diam akibatnya mulut tanpa tanya.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri,
mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan
ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski
ditutupi jaket yang kuberi. Ku syukuri jaketku masih menutupi baik raga
maupun….bukan raganya, akan tetapi tangannya tak tertutup kali ini, apakah
pertanda suka? Atau sayang? Dan mungkinkah cinta? Ini hanya kepercayaanku
kepada suka, sayang, dan cinta, meski berkali-kali dikhianati, berkali-kali
dicaci, samapi berkali-kali diludahi aku akan tetap percaya. Kugenggam tangan
mungil itu lagi dan lagi, ini semua karena panas dari lobby mulai dihinggapi bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan
atom yang terikat secara kimia.
Tangan kami saling berpelukan tak lepas sampai
pertunjukan usai, entah darimana angina yang merayap pada tubuh kami yang
membuat tangan kami berpelukan selama ini, tak mau tau dan tak mau kupikirkan
angin ini, namun kuucapkan terima kasih pada angin ini dalam imajiku,kuucapkan
terima kasih pula pada tuhan yang menyatukan tanga ini dalam peukan tangannya
yang mungil serta menghangatkan.
Seusai pertunjukan kami saling menatap beberapa
detik, mulut kami terkunci dan mata yang bicara tentang keadaan kami. Terbawa
suasana kami sampai lupa bahwa pertunjukan usai dalam belaian tangan. Bergegas
kami saling melepaskan pelukan tangan.
“aku kebawah terlebih dulu”
“iya wan”
“cepat kamu kebawah berfoto dengan aktor dan aktris
serta sutradara pementasan, jangan kau sia-siakan kesempatan ini”
“iya iwan, iya. Kamu duluan saja sana”
“boleh aku bertanya seraya merayu padamu?” malu-malu
aku bertanya.
“katakan saja apa itu?” jawabnya percaya
“Boleh aku minta sesuatu diluar
keegoisanku? Jangan terlalu baik pada lelaki lain saat kamu disekitarku”. Mata kami
berpandang tajam bak katana siap menusuk dada.
Dia senyum, hanya senyum, senyum
dan senyum. Semoga kau paham apa maksud kalimat terakhirku, usai pementasan.
Diluar di bumi alang-alang, di
bumi batu-batu, di bumi air-air, di bumi udara-udara, di bumi pohon-pohon, di
bumi jangkrik-jangkrik, di langit awan-awan, di langit bintang-bintang,
dilangit burung terbang, di langit kelelawar menyebar, di langit bulan menelan,
dan semua di alam semesta ini seperti siap menyimak cerita tentang tangan
mungil kita, ya tangan KITA!


