Selasa, 06 Desember 2016

Pementasan Tangan dalam Pementasan

Pementasan Tangan dalam Pementasan
buah tangan : Iwan Kurniawan


10 November, malam itu dingin, dingin sekali. semua kedinginan, dinginpun menerus ke tulang rusuk, sampai segar daging busuk ini. Aku berjaket, dan yang lainnyapun pakai hingga dinginnya tak terlalu terasa, hanya saja dingin itu masuk sedikit demi sedikit dari celah yang tak dibalut kain jaket.
Di samping, tepatnya samping kiri ada wanita tak berkain tebal. awas wanita itu bukan waria, wanita itu ya wanita pada umumnya. bergincu, berambut, bernafas, bernyawa, berdada, dan berkemaluan seperti wanita lainnya. Menyebalkan, wanita itu kedinginan. lantas apa yang harus aku lakukan? kutanggalkan jaket? lantas aku kedinginan, tak kutanggalkan jaket, sikap wanitapun bagai anak kurus minta ditetei ibunya. Entah setan entah malaikat berbisik ke telinga kanan dan kiri, lalu berujar "kau itu laki-laki tak mungkin mati, gegara dingin! sekarang tanggalkan jaket lantas berikan kepada wanita itu, jangan jadi pengecut! sembunyi di balik kehangatan, jadilah bayangan meski diinjak-injak tak mau balik menginjak. Bukan hanya itu terkadang laki-laki harus melindungi sesuatu, walaupun dia harus membuang kehormatannya sendiri!" begitulah ujaran dalam imajiku.
Tanpa pikir kutanggalkan jaket, tinggal kaos tipis yang ku pakai, sebab tak kuat aku melihat dia kedinginan. bodohnya wanita itu menolak, padahal tolakannya hanya kebohongan ujar dengan bumbu bodoh dari kata-kata. dengan nada seorang paskibra yang pas-pasan, kupaksa agar dipakai itu jaket. tak berani mengelak, sebab sudah kutanggalkan jaketku. Jaketpun dipakai juga. Hanya karena tidak meminta tolong, bukan berarti dia tidak ingin ditolong. Hanya karena dia tidak bilang cinta, bukan berarti dia tidak mencintaimu. Siapa pun punya hal yang tak bisa dikatakan walaupun ingin dikatakan. Itu kalimat yang kudapatkan dari sebuah manga dari Jepang, dan mempekakan aku terhadap keadaanku dengannya.

Wajahnya tak lesu usai mengenakan jaket, seperti ada pelukan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, begitu hangat…hangat…hangat.....hangat benar. bahkan, hangat sangsurya dibawah hangat ini sangat dalam hangatnya sampai terasa di nadi kita. senyum aku melihat wanita itu dalam kehangatan. Akantetapi beberapa detik tik-tok-tik-tok, sampai detik-detik itu berkumpul bak nasi mengisi bakul, bersatu menyatu padu menjadi menit-menit berbelit bersama waktu yang berlalu, hangat yang terkumpul sebelum jaketku ditanggalkan habis terkikis dingin, gemetar dari ujung kuku menuju ujung bulu hitam kepala. tangan, kaki, dada, kepala, punggung dan juga seluruh anggota tubuh hingga menerus dan menusuk tulang belulang, hingga hinggap pada organ-organ dalam tubuh berbungkus kulit dingin, dingin sedingin-dinginnya dingin dalam dingin kedinginan.
Aku percaya perlakuanku padanya, bisa suka, bisa sayang, bisa cinta, bisa juga hanya nafsu belaka. Seharusnya aku bertanya setelah merayu, tapi degup hati ini sangat lemah lazimnya ikan didaratan hanya loncatan-loncatan tak berarah yang dilakukan. Apakah ini semua karena dinginnya menembus daging? menerobos urat nadi melalui aliran-aliran darah? lantas beredar lalu berputar-putar pada tubuh yang gemetar ? entahlah, mungkin hanya dingin  .
Dalam anganku aku berkata
"aku hanya ingin genggaman tangan wanita bodoh, wanita bodoh bertangan tidak hangat, namun setidaknya menghangatkan jiwa, hati, dan suasana ini".
Seperti peribahasa hendak ditelan termengkalan, hendak diludah tiada keluar. Begitulah aku, bingung sebingung bingungnya orang bingung yang berkeinginan memiliki genggaman sejalan.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Merah pipi kanan kirinya seperti itu pula pipi kanan kiriku. Merah bagai senja berhiaskan lembayung diatas gunung sebelah barat.
Kesudahan itu aku tarik tangannya sampai keluar dari bungkusan jaket yang menghalangi kulit tangan kami. Mungil serta mulus tangan itu sampai nyaman ku genggami. Tapi membadai burung atas langit, merendah diharap jangan. Maksudnya jangan aku mengharap sesuatu lebih, seusai menggenggam tangannya, takut akan sia-sia dan hanya menimbulkan kekecewaan belaka. Mengapa begitu karena wanita itu berontak gertak padaku dingin, setelah keluar tangan mungilnya dari jaket.
“dingin wan!” ujarnya
Jawabku “tak apa, sebentar lagi juga tangan kita saling menghangatkan, percayalah!”
            Diam hanya diam seusai kulontarkan dialog bodoh juga memaksa itu, sampai aku mengalah, sampai kulepaskan tangannya. Ini pukulan bagi seorang pria, bagai pernyataan cinta ditolaknya. Memang dunia tidak berputar sesuai keinginanku, dan juga dengan wanita ini, aku tak bisa mengaturnya seenakku saja, tak bisa kupaksa seinginku saja.
Aku tak boleh depresi hanya karena sesuatu, seperti cuma ditolak. Kalau dia tidak membutuhkanku, aku akan menjauh. Tapi jika terjadi apa-apa padanya, keselamatannya akan aku pastikan. Selama ini aku mencari hal nyata di dunia ini. Bagiku, hal yang nyata itu adalah kehangatan dari genggaman tanganmu, dan aku yakin itu. Meski penolakkan kurasakan di awal. Ini tidak membuatku menyerah, melainkan cambuk untuk terus berada dalam genggam, ya dalam genggam tanganmu.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Tak merah lagi pipi kami, walau tangannya dalam peluk tanganku. Sayang beribu sayang, pertunjukan yang kami apresiasi sudah waktunya untuk istirahat dalam tenggang waktu 15 menit.  Kami berhenti saling menghangatkan jiwa melalui tangan, dengan ketakutan dilihat kawan dari kiri maupun kanan.
            Diluar ruang pementasan aku seperti dibutakan dalam gelap, kulihat hanya wanita yang menghangatkan tanganku saja tak ada wanita lain tak ada satupun.
Jadi ingin kopi pikirku. Kubeli satu gelas kopi harganya 7000 rupiah, 3 kali lipat disbanding harga kopi tempatku biasa beli, mahal benar kopi disini pikirku. Tak apalah sekali-kali kopi diatas harga rata-rata. Di lobby kami berbincang tentang pementasan kecoa bersama panasnya suhu meski hujan beribu-ribu mengguyur tanah yang tabu, bersama dosen kakak tingkat dan kawan sejalan kala itu. Mungkin 15 menit sudah berlalu dan goong berbunyi 2 kali, kopipun belum kuhabisi masih setengah gelas juga panas. Kami semua bergegas masuk kembali menyaksikan pertunjukan. Sebelum masuk hati ini tak tenang dag-dig-dug, berpikir apakah tangan wanita mau memeluk tanganku kembali? Apakah mau? Atau malah menghindar dan jiji pada tanganku yang kasap serta kasar? Atau sebaliknya, sama inginnya dengan inginku utuk memelukkan tangan-tangan kita? Entahlah pikiran itu bisa terlaksana ketika sudah duduk bersama, kita lihat saja nanti.
Sampai datang aku pada baris-baris kursi yang sudah berisi, begitupun tempatku duduk di kursi dengan nomor U-25, disampingnya kursi bernomor U-26 disanalah wanita itu duduk disamping kiri tempatku duduk. Duduklah aku disana, sambil mencari-cari roti yang kubawa dalam tas berisi buku-buku yang jangan sampai  dicuri, hingga kutemukan roti itu, kubuka dan kumakan sedikit lalu kutawarkan.
“roti, mau?” dengan memelas berharap dia mau.
“tidak wan, masih kenyang aku”
“yakin kau tak mau? Aku sudah kenyang lo”
“apa sih wan, aku masih kenyang serius!”
“yasudah kalau tak mau, aku makan sendiri saja”
Sambil berharap wanita itu mau memakan roti yang kuberi, tapi tak sadar diri dia sudah ditawari tak mau pula, padahal aku yakin dia masih lapar! Hey para pembaca apa kalian tahu apa ingin dalam pikirku? Ya, ya, inginku adalah menyuapi dia dengan roti haha tak apalah jikalau ia tak mau. Rotipun habis bak tanah diiris air hujan, atau erosi dalam istilah geologi. Degup jantung dag-dig-dag-dig-dag-dig-dug canggung aku tanya sesuatu padanya, diam akibatnya mulut tanpa tanya.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Ku syukuri jaketku masih menutupi baik raga maupun….bukan raganya, akan tetapi tangannya tak tertutup kali ini, apakah pertanda suka? Atau sayang? Dan mungkinkah cinta? Ini hanya kepercayaanku kepada suka, sayang, dan cinta, meski berkali-kali dikhianati, berkali-kali dicaci, samapi berkali-kali diludahi aku akan tetap percaya. Kugenggam tangan mungil itu lagi dan lagi, ini semua karena panas dari lobby mulai dihinggapi bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat secara kimia.
Tangan kami saling berpelukan tak lepas sampai pertunjukan usai, entah darimana angina yang merayap pada tubuh kami yang membuat tangan kami berpelukan selama ini, tak mau tau dan tak mau kupikirkan angin ini, namun kuucapkan terima kasih pada angin ini dalam imajiku,kuucapkan terima kasih pula pada tuhan yang menyatukan tanga ini dalam peukan tangannya yang mungil serta menghangatkan.
Seusai pertunjukan kami saling menatap beberapa detik, mulut kami terkunci dan mata yang bicara tentang keadaan kami. Terbawa suasana kami sampai lupa bahwa pertunjukan usai dalam belaian tangan. Bergegas kami saling melepaskan pelukan tangan.
“aku kebawah terlebih dulu”
“iya wan”
“cepat kamu kebawah berfoto dengan aktor dan aktris serta sutradara pementasan, jangan kau sia-siakan kesempatan ini”
“iya iwan, iya. Kamu duluan saja sana”
“boleh aku bertanya seraya merayu padamu?” malu-malu aku bertanya.
“katakan saja apa itu?” jawabnya percaya
“Boleh aku minta sesuatu diluar keegoisanku? Jangan terlalu baik pada lelaki lain saat kamu disekitarku”. Mata kami berpandang tajam bak katana siap menusuk dada.
Dia senyum, hanya senyum, senyum dan senyum. Semoga kau paham apa maksud kalimat terakhirku, usai pementasan.
Diluar di bumi alang-alang, di bumi batu-batu, di bumi air-air, di bumi udara-udara, di bumi pohon-pohon, di bumi jangkrik-jangkrik, di langit awan-awan, di langit bintang-bintang, dilangit burung terbang, di langit kelelawar menyebar, di langit bulan menelan, dan semua di alam semesta ini seperti siap menyimak cerita tentang tangan mungil kita, ya tangan KITA!


Jumat, 20 Mei 2016

Cerita pendek



Mangga Sagi

Burung-burung di pagi hari hilir mudik mandi dan mencari makanan-makanan kecil yang terhampar dan berserakan bersatu dengan kotoran. Di pagi yang lelah ada pohon mangga amat besar di bawah kaki gunung Ciremai ditemani seorang anak bernama Sagi yang sering bermain bersama pohon mangga itu. Dari hari ke hari Sagi dan pohon mangga ini terus bersama bermain, bergembira dan tertawa dari terbit matahari sampai senja yang terus di ulangi. Setiap hari Sagi selalu memanjat pohon mangga ini sampai ke puncaknya, tiduran dan berbaring di bawah pohon mangga, di bawah keteduhan dan kesejukan daun-daun yang lebat tanpa dimakan ulat, memakan buah mangga yang segar dan manis yang membuat perut keringnya berair dan kenyang. Sagi sangat menyayangi pohon mangga ini dan begitu pula sebaliknya pohon mangga ini sangat menyayangi Sagi selayaknya.
Hari demi hari berlalu Sagi jarang bermain dengan pohon mangga setiap harinya, pohon manggapun merasa kesepian. Pada senja Sagi datang dengan wajah lelah, muka lusuh, tubuh lemah dan kaki yang tak bersemangat melangkah, tubuhnya bagai ikan masuk jala.
pohon manggapun berkata “Sagi ayo kemari bermain denganku, ayo panjat aku, makan buah-buahku yang segar, lalu beristirahat dan berteduhlah di bawah dedaunanku yang rindang”
“aku bukan lagi anak kecil yang akan bermain dengan pohon mangga seperti dulu” jawab Sagi dengan lesu.
“kali ini aku sangat menginginkan mainan untuk bermain agar aku bisabermain seperti anak-anak yang lain” kata Sagi.
“maaf Sagi aku tidak memiliki uang untuk membelikanmu mainan, akan tetapi kau bisa mengambil semua mangga yang ada padaku dank au bisa mendapatkan uang untuk membeli maianan yang kau inginkan dengan uang dari penjualan mangga milikku ini”
Sagi sangat senang dan langsung memetik semua buah mangga untuk dijualnya. Akan tetapi Sagi kembali tidak datang kembali stelah memetik buah di pohon mangga itu, pohon mangga itu kembali bersedih karena ketidakhadiran Sagi dalam harinya.
            Beberapa hari kemudian Sagi datang kembali. Pohon mangga kembali bahagia sampai-sampai bergoyang sepeti dihempas angin dan menjatuhkan ranting kecil di kepala Sagi.
“ayo kita bermain-main lagi seperti dulu Sagi” ujar pohon mangga yang riang gembira
Jawab Sagi dengan singkat “aku tak punya waktu untuk bermain denganmu lagi”
“lalu kenapa kamu datang kemari? Apa kamu sedang kesusahan?”
“sepertinya seperti itu, kali ini aku harus bekerja untuk anak dan istriku, kami membutuhkan rumah untuk keluargaku”
“Maafkan aku Sagi aku tidak bisa memberikanmu rumah, bahkan akupun tidak memiliki rumah, rumahku hanya dunia ini, atap rumahkupun langit tak berbintang, dan lantainya hanya tanah yang dipenuhi kotoran burung saja. Tapi kau boleh memotong dahan dan rantingku untuk membuat rumah karena dahan dan rantingku cukup kuat”
“apa tidak apa-apa pohon mangga?”
“tentu saja ambilah semua dahan dan rantingku untuk membuat rumah keluargamu, tentu aku kan bahagia jika melihatmu bahagia Sagi. Don’t put off until tomorrow what you can do today, cepat tebang dahan dan rantingnya”
Sagipun memotong dahan dan ranting pohon mangga, lalu pergi dengan bahagia dengan dahan dan ranting pohon mangga. Pohon mangga sangat bahagia melihat Sagi begitu riang membawa dahan dan rantingnya. Lagi Sagi tidak pernah datang lagi dan pohon mangga merasa sepi dan sedih.
            Wabakdu, musim dingin berlalu dan musim panas datang berbarengan dengan Sagi. Pohon mangga menyambutnya dengan rasa bahagia meski dipanasi oleh sinar matahari karena pohon mangga kini tak berdahan dan beranting yang mengakibatkan daunnya hilang dan mengalami kepanasan yang luar biasa. Akan tetapi panas ini hilang karena kedatangan Sagi yang mungkin kali ini mau bermain dengannya.
Pohon mangga itu berujar “Sagi, kali ini ayo kita bermain sampai senja seperti dulu saat kau masih kanak-anak dan kekanak-kanakan?”
“pohon mangga, maafkan aku kali ini aku membutuhkan hiburan dan ingin sekali aku berlayar seperti bajak laut agar aku memiliki kebebasan, apakah kau memiliki perahu pohon mangga?”
“maafkan aku Sagi aku tidak memiliki perahu untuk membantumu berlayar dan mencari hiburan seperti bajak laut.”
“yah taka pa jika tak ada pohon mangga”
Sagi berjalan melangkah pergi dari pohon mangga, akan tetapi pohon mangga memanggilnya Sagipun berhenti.
“Sagi”
“ya keanapa pohon mangga?”
“ini Sagi ambillah batang tubuhku yang besar ini, batang tubuhku ini bisa cukup untuk dibuat perahu dan kaupun bisa berlayar jika memakai batang tubuhku, bukan hanya itu kau bisa mengingatku ketika kau sedang berlayar agar setelah kau mendapatkan hiburan kau bisa kembali kemari dan bermain denganku”
“apa kau yakin pohon mangga?”
“yah ambillah Sagi”
Sagipun menebang batang pohon mangga yang besar itu, kemudian pergi dengan hati yang senang, begitu pula dengan pohon mangga yang melihat Sagi begitu riang. Akan tetapi setelah hari itu bertahun-tahun pohon mangga hidup sendiri kesepian begitu lamanya karena Sagi tak pernah kembali lagi sampai begitu lamanya.
            Beberapa tahun kemudian Sagi datang menemui kembali pohon mangga itu, pohon mangga itu merasa bahagia. Pohon mangga bahagia dengan kedatangan Sagi. Tapi tiba-tiba pohon mangga itu terisak sedikit meneteskan air mata bukan mata air dan berkata
“maafkan aku anakku kali ini aku tidak memiliki mangga untuk kau makan”
“tak apa lagi pula aku sudah tua dan tidak memiliki gigi untuk membuka kulit mangga yang cukup keras itu” jawab Sagi.
“maafkan juga kali ini aku tak memiliki dahan, dan ranting sehingga kau tidak bisa memanjatku kali ini”
“tenanglah pohon mangga aku sudah tua untuk melakukan hal seperti itu”
“Sagi anakku kali ini aku hanya memiliki akar tua dan akar ini dalam keadaan sekarat” jawab pohon mangga.
“pohon mangga kali ini aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat, aku sangat lelah setelah sekian lama pergi jauh meninggalkanmu”
“baguslah kalau begitu, kali ini bersandarlah pada akar milikku yang sedang sekarat ini, dan tahukah kau akar pohon tua adalah tempat yang nyaman untuk berbaring dan beristirahat, ayo ayolah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang”
Pohon mangga kali ini sangat bahagia dan tersenyum melihat Sagi yang sedang beristirahat diatas akar-akarnya sambil meneteskan air mata.


 

12 Maret 2016
Iwan Kurniawan

Minggu, 17 Januari 2016

Larangan Kesenian Wayang di Desa Citangtu

      larangan ini ditujukan untuk seluruh warga masyarakat Desa Citangtu yang tidak diperbolehkan menunjukan pementasan perwayangan di dalam acara hajatan atau di aara hiburan-hiburan lainnya.pada zaman dahulu di Citangtu diadakan kesenian wayang yang lamanya satu hari satu malam. pada waktu ramai, dalam hiburan tersebut terjadi keributan dan menimbulkan perkelahian antara warga Desa Citangtu dan warga Desa Cangkuang. Dalam perkelahian ini, orang cangkuang banyak yang meninggal dan cedera. karena dalam perkelahian menggunakan senjata tajam. maka Buyut Jalita sebagai sesepuh/kokolot di Desa Citangtu melarang dari waktu itu untuk mengadakan pertunjukan wayang. dan bag saiapa yang melanggar , akan mendapatkan kutukan. sampai sekarang di Citangtu tidak di perbolehkan adanya hiburan wayang.

sumber : Karmin Komar

Dongeng Citangtu

     Citangtu hiji lembur anu aya di pagunungan. wilayahna kacida luasna. dina mangsa mimiti aya pamarentahan anu nyekel  kakawasaan nana hiji Dalem putrana Geusan Ulun anu nyekel kakawasaan di Kuningan tahun 1570 M atanapi incuna sang Adipati Kuningan. Dina tahun 1650 Geusan Ulun wafat. pamarentahanna di teruskeun ku anak cikal nyaeta Mangku Bumi. sanggeus Mangku Bumi nyekel kakawasaan timbul deui kakawasaan diantara sasaderekanna anu 28 urang nempatan tempat-tempat kadudukan seperti tina ngaran julukan jeung tempat pemakaman nana. Nya Dalem Citangtu anu urutan ka dua. Upami jalmi anu kaitung pertama aya nya eta Sura Dipa.
      Dina mangsa mimiti, aya hiji Kiai sok sanajan ayeuna tinggal kuburan nana Citangtu kasebut kaluar lembur sampe daerah ku ayana hiji kiai nyaeta kiai Satar, putrana Raden Kenda masih katurunan ti sunan Gunung Jati. masih di eta makam, aya deui anu dianggap keramat nyaeta makam Ulun Sayu Ulun Mariah anu garwa ku Kiai Satar . jeung Ulun jangjung ka tilu Ulun putrana Pangeran Baya atanapi Incuna sunan Gunung Jati  anu jiarah kaka makam Kiai Satar loba tinu jarauh dugikeun ka aya anu ti Bogor, di tahun 2003 ti jakarta. Kiai Satar teh ramana Bagus Lukman  atanapi akina Eyang Hassan Maolani anu di buang ka Manado ku Belanda tahun 1837.
      Citangtu kaasup loba lemburna , diantarana kampung manis, pahing, lebak burang, talahab, wangun, salahonje, tarikolot. Dalem salahonje masih putrana Geusan Ulun Kuningan, di Wangun makam patilasan Eyang Mangku Bumi, di pasir loba makam para buyut diantarana Eyang Pawenang Pager Barang atanapi Buyut Tunggal, Buyut Jalak, Buyut Deles. Buyut Bagong di pasir rumakadang. Buyut Asiah di Gunung Alus. Para Buyut teh jalmi anu gede pangaruhna, gede elmu ka digjayaan, di pikahormat, kokolot.
       Citangtu loba kapantang teu paya. citangtu kasebut desa kolot. Citangtu kasebut anu nangtukeun naon hilap deui. jalmi ti luar desa anu terangeun sejarahna teu daekeun nembongkeun kabisa saperti sulap. zaman baheula aya anu sulap ngeureut maneh datang ka balik getihan bae, aya deui anu sulap hampir cilaka. ceuk anu tas nganjang ti bumina anu sulap, nyebutkeun ti saprak tas sulap di Citangtu can aya deui anu manggih. aya babasan ti sepuh baheula ceunah, boh sulap boh selip boh sintren datang ka citangtu mah apes. aya deui rombongan kasenian sandiwara ti Bandung anu aya Sabulanna ngadongeng. kuring teh tukang gendang anu basa sandiwara di Citangtu , kuring ngarasa aneh sampe ayeuna teu manggung deui duka sindeng jeung nayaga dimarana, jad bubar. nganggap wayang di antara para penonton nimbulkeun korban jiwa . munggah haji oge teu paya kudu pindah tempat heula. jadi hartina mangkatna ka tanah suci ulah ti Citangtu. memang baheula mah sok parindah. ayeuna mah langsung ti Citangtu.. 

Jumat, 08 Januari 2016

Encek pengkun karya Remy Sylado

Encek pengkun

Encek Pengkun lahir di Jakarta

Dari kakek nenek yang membumi di Batavia
Sejak Adrian Velckeneir membantai orang Cina

Walau sudah mengindonesia sekian lama
Encek Pengkun belum punya surat warga Negara
Sebab dipersulit selama penjajahan orde baru
Yang memakan waktu tiga setengah dasawarsa
Dan tak sama dengan penjajahan Jepang
Yang memakan waktu tiga setengah tahun
Dan tak sama dengan penjajahan belanda
Yang memakan waktu tiga setengah abad

Untuk memperoleh surat warganegara
Dan mengganti namanya menjadi nama jawa
Encek Pengkun harus mengikuti ujian-ujian
Di hadapan hakim pengadilan khusus

Ujian pertama yang diajukan hakim
Adalah pertanyaan hafalan anak SD
Kata hakim, “Encek Pengkun,
Coba sebut ayat-ayat Pancasila.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya,
“hayya semua olang tahu la ada lima macam
Kesatu, kehutanan yang maha esa,
Dua cula,tiga belian, ampat sehat, lima sempulna.”
                                 
Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani
Nah, siapa penggali pancasila?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, semua olang tahu, ada khong ping ho dali solo
Banyak kalang buku-buku celita ‘pencak silat’.”
Hakim membentak, “bukan pencaksilat tapi pancasila!”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua dua alat bela dili.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Hakim menunjukan foto besar Suharto
Sambil bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya semua olang tahu la, itu sukalno.”
Hakim membentak, ”Bukan! ini Suharto.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua-dua pake kopiah.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Hakim menunjukan foto besar ibu kartini
Sambil bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya semua olang tahu la, itu melek jamu
Cap nynya menel dali semalang.”
Hakim membentak, ”Bukan! ini ibu kartini.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua-dua pake konde.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Tumben, encek pengkun tidak lugu
Berkata yakin “sekalang owe tidak gagal lagi.”
Kata hakim, “hari ini anda hanya cukup menyanyi
Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.”
Tumben, encek pengkun tidak lugu
Berkata yakin “soal nyanyi owe no satu.”
Dan sambil beerdiri tegak enecek pengkun menyanyi
“Indonesia tanah ail-‘mu’
Tanah tumpah dalah-‘mu’.”
Hakim membentak, hei, bukan ‘mu’ tapi ‘ku’.”
Jawab encek pengkun tidak lugu lagi,
“hayya, kalau begitu tandatangan dulu
Owe punya sulat walganegala.
Kalau sudah tanda tangan owe nyanyi ‘ku’
Sebelum tanda tangan owe nyanyi ‘mu’.”

Hakim geram, tapi mengalah, katanya, “ya, sudah
Saya tandatangani sekarang juga
Mulai sekarang nama anda: Kuntarto Winoto

Diluar siding pengadilan hakim berkata,
“nanti pemilu anda harus pilih salah Satu
Dari tiga partai besar: PPP,Golkar, PDI.
Kira-kira anda pilih yang mana?”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya owe tidak pilih mana-mana.”
Kata hakim, “tidak boleh !anda harus pilih Golkar.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe bisa susah
Kalau golkar menang, pembangunan dimana mana
Lantas owe punya lumah kena potong dibikin jalan.”
Kata hakim, “kalau begitu pilih saja PDI.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe bisa susah
Paltai banteng paltainya sukalno
Dulu jaman sukalno owe punya uang kena potong
Kalau PDI menang, owe punya uang kena potong lagi.”
Kata hakim, “kalau begitu pilih PPP.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe tambah susah
Kalau PPP menang, dibelakukan syaliat islam
Lantas owe punya lancau kena potong disunat.”
Kata hakim, “kalau kalau begitu anda pilih partai apa?”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, owe pilih golput saja.”
Kata hakim, “golput tidak boleh.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya emang gue pikilin?”