Selasa, 06 Desember 2016

Pementasan Tangan dalam Pementasan

Pementasan Tangan dalam Pementasan
buah tangan : Iwan Kurniawan


10 November, malam itu dingin, dingin sekali. semua kedinginan, dinginpun menerus ke tulang rusuk, sampai segar daging busuk ini. Aku berjaket, dan yang lainnyapun pakai hingga dinginnya tak terlalu terasa, hanya saja dingin itu masuk sedikit demi sedikit dari celah yang tak dibalut kain jaket.
Di samping, tepatnya samping kiri ada wanita tak berkain tebal. awas wanita itu bukan waria, wanita itu ya wanita pada umumnya. bergincu, berambut, bernafas, bernyawa, berdada, dan berkemaluan seperti wanita lainnya. Menyebalkan, wanita itu kedinginan. lantas apa yang harus aku lakukan? kutanggalkan jaket? lantas aku kedinginan, tak kutanggalkan jaket, sikap wanitapun bagai anak kurus minta ditetei ibunya. Entah setan entah malaikat berbisik ke telinga kanan dan kiri, lalu berujar "kau itu laki-laki tak mungkin mati, gegara dingin! sekarang tanggalkan jaket lantas berikan kepada wanita itu, jangan jadi pengecut! sembunyi di balik kehangatan, jadilah bayangan meski diinjak-injak tak mau balik menginjak. Bukan hanya itu terkadang laki-laki harus melindungi sesuatu, walaupun dia harus membuang kehormatannya sendiri!" begitulah ujaran dalam imajiku.
Tanpa pikir kutanggalkan jaket, tinggal kaos tipis yang ku pakai, sebab tak kuat aku melihat dia kedinginan. bodohnya wanita itu menolak, padahal tolakannya hanya kebohongan ujar dengan bumbu bodoh dari kata-kata. dengan nada seorang paskibra yang pas-pasan, kupaksa agar dipakai itu jaket. tak berani mengelak, sebab sudah kutanggalkan jaketku. Jaketpun dipakai juga. Hanya karena tidak meminta tolong, bukan berarti dia tidak ingin ditolong. Hanya karena dia tidak bilang cinta, bukan berarti dia tidak mencintaimu. Siapa pun punya hal yang tak bisa dikatakan walaupun ingin dikatakan. Itu kalimat yang kudapatkan dari sebuah manga dari Jepang, dan mempekakan aku terhadap keadaanku dengannya.

Wajahnya tak lesu usai mengenakan jaket, seperti ada pelukan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, begitu hangat…hangat…hangat.....hangat benar. bahkan, hangat sangsurya dibawah hangat ini sangat dalam hangatnya sampai terasa di nadi kita. senyum aku melihat wanita itu dalam kehangatan. Akantetapi beberapa detik tik-tok-tik-tok, sampai detik-detik itu berkumpul bak nasi mengisi bakul, bersatu menyatu padu menjadi menit-menit berbelit bersama waktu yang berlalu, hangat yang terkumpul sebelum jaketku ditanggalkan habis terkikis dingin, gemetar dari ujung kuku menuju ujung bulu hitam kepala. tangan, kaki, dada, kepala, punggung dan juga seluruh anggota tubuh hingga menerus dan menusuk tulang belulang, hingga hinggap pada organ-organ dalam tubuh berbungkus kulit dingin, dingin sedingin-dinginnya dingin dalam dingin kedinginan.
Aku percaya perlakuanku padanya, bisa suka, bisa sayang, bisa cinta, bisa juga hanya nafsu belaka. Seharusnya aku bertanya setelah merayu, tapi degup hati ini sangat lemah lazimnya ikan didaratan hanya loncatan-loncatan tak berarah yang dilakukan. Apakah ini semua karena dinginnya menembus daging? menerobos urat nadi melalui aliran-aliran darah? lantas beredar lalu berputar-putar pada tubuh yang gemetar ? entahlah, mungkin hanya dingin  .
Dalam anganku aku berkata
"aku hanya ingin genggaman tangan wanita bodoh, wanita bodoh bertangan tidak hangat, namun setidaknya menghangatkan jiwa, hati, dan suasana ini".
Seperti peribahasa hendak ditelan termengkalan, hendak diludah tiada keluar. Begitulah aku, bingung sebingung bingungnya orang bingung yang berkeinginan memiliki genggaman sejalan.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Merah pipi kanan kirinya seperti itu pula pipi kanan kiriku. Merah bagai senja berhiaskan lembayung diatas gunung sebelah barat.
Kesudahan itu aku tarik tangannya sampai keluar dari bungkusan jaket yang menghalangi kulit tangan kami. Mungil serta mulus tangan itu sampai nyaman ku genggami. Tapi membadai burung atas langit, merendah diharap jangan. Maksudnya jangan aku mengharap sesuatu lebih, seusai menggenggam tangannya, takut akan sia-sia dan hanya menimbulkan kekecewaan belaka. Mengapa begitu karena wanita itu berontak gertak padaku dingin, setelah keluar tangan mungilnya dari jaket.
“dingin wan!” ujarnya
Jawabku “tak apa, sebentar lagi juga tangan kita saling menghangatkan, percayalah!”
            Diam hanya diam seusai kulontarkan dialog bodoh juga memaksa itu, sampai aku mengalah, sampai kulepaskan tangannya. Ini pukulan bagi seorang pria, bagai pernyataan cinta ditolaknya. Memang dunia tidak berputar sesuai keinginanku, dan juga dengan wanita ini, aku tak bisa mengaturnya seenakku saja, tak bisa kupaksa seinginku saja.
Aku tak boleh depresi hanya karena sesuatu, seperti cuma ditolak. Kalau dia tidak membutuhkanku, aku akan menjauh. Tapi jika terjadi apa-apa padanya, keselamatannya akan aku pastikan. Selama ini aku mencari hal nyata di dunia ini. Bagiku, hal yang nyata itu adalah kehangatan dari genggaman tanganmu, dan aku yakin itu. Meski penolakkan kurasakan di awal. Ini tidak membuatku menyerah, melainkan cambuk untuk terus berada dalam genggam, ya dalam genggam tanganmu.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Tak merah lagi pipi kami, walau tangannya dalam peluk tanganku. Sayang beribu sayang, pertunjukan yang kami apresiasi sudah waktunya untuk istirahat dalam tenggang waktu 15 menit.  Kami berhenti saling menghangatkan jiwa melalui tangan, dengan ketakutan dilihat kawan dari kiri maupun kanan.
            Diluar ruang pementasan aku seperti dibutakan dalam gelap, kulihat hanya wanita yang menghangatkan tanganku saja tak ada wanita lain tak ada satupun.
Jadi ingin kopi pikirku. Kubeli satu gelas kopi harganya 7000 rupiah, 3 kali lipat disbanding harga kopi tempatku biasa beli, mahal benar kopi disini pikirku. Tak apalah sekali-kali kopi diatas harga rata-rata. Di lobby kami berbincang tentang pementasan kecoa bersama panasnya suhu meski hujan beribu-ribu mengguyur tanah yang tabu, bersama dosen kakak tingkat dan kawan sejalan kala itu. Mungkin 15 menit sudah berlalu dan goong berbunyi 2 kali, kopipun belum kuhabisi masih setengah gelas juga panas. Kami semua bergegas masuk kembali menyaksikan pertunjukan. Sebelum masuk hati ini tak tenang dag-dig-dug, berpikir apakah tangan wanita mau memeluk tanganku kembali? Apakah mau? Atau malah menghindar dan jiji pada tanganku yang kasap serta kasar? Atau sebaliknya, sama inginnya dengan inginku utuk memelukkan tangan-tangan kita? Entahlah pikiran itu bisa terlaksana ketika sudah duduk bersama, kita lihat saja nanti.
Sampai datang aku pada baris-baris kursi yang sudah berisi, begitupun tempatku duduk di kursi dengan nomor U-25, disampingnya kursi bernomor U-26 disanalah wanita itu duduk disamping kiri tempatku duduk. Duduklah aku disana, sambil mencari-cari roti yang kubawa dalam tas berisi buku-buku yang jangan sampai  dicuri, hingga kutemukan roti itu, kubuka dan kumakan sedikit lalu kutawarkan.
“roti, mau?” dengan memelas berharap dia mau.
“tidak wan, masih kenyang aku”
“yakin kau tak mau? Aku sudah kenyang lo”
“apa sih wan, aku masih kenyang serius!”
“yasudah kalau tak mau, aku makan sendiri saja”
Sambil berharap wanita itu mau memakan roti yang kuberi, tapi tak sadar diri dia sudah ditawari tak mau pula, padahal aku yakin dia masih lapar! Hey para pembaca apa kalian tahu apa ingin dalam pikirku? Ya, ya, inginku adalah menyuapi dia dengan roti haha tak apalah jikalau ia tak mau. Rotipun habis bak tanah diiris air hujan, atau erosi dalam istilah geologi. Degup jantung dag-dig-dag-dig-dag-dig-dug canggung aku tanya sesuatu padanya, diam akibatnya mulut tanpa tanya.
Jari-jari tak henti-henti menari ke kanan dan kiri, mencari-cari kehangatan bak lelaki mencari istri halai-balai sekali. Dengan ikhtiari lengan kiri sampai ambulatori dan menghinggapi lengannya meski ditutupi jaket yang kuberi. Ku syukuri jaketku masih menutupi baik raga maupun….bukan raganya, akan tetapi tangannya tak tertutup kali ini, apakah pertanda suka? Atau sayang? Dan mungkinkah cinta? Ini hanya kepercayaanku kepada suka, sayang, dan cinta, meski berkali-kali dikhianati, berkali-kali dicaci, samapi berkali-kali diludahi aku akan tetap percaya. Kugenggam tangan mungil itu lagi dan lagi, ini semua karena panas dari lobby mulai dihinggapi bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat secara kimia.
Tangan kami saling berpelukan tak lepas sampai pertunjukan usai, entah darimana angina yang merayap pada tubuh kami yang membuat tangan kami berpelukan selama ini, tak mau tau dan tak mau kupikirkan angin ini, namun kuucapkan terima kasih pada angin ini dalam imajiku,kuucapkan terima kasih pula pada tuhan yang menyatukan tanga ini dalam peukan tangannya yang mungil serta menghangatkan.
Seusai pertunjukan kami saling menatap beberapa detik, mulut kami terkunci dan mata yang bicara tentang keadaan kami. Terbawa suasana kami sampai lupa bahwa pertunjukan usai dalam belaian tangan. Bergegas kami saling melepaskan pelukan tangan.
“aku kebawah terlebih dulu”
“iya wan”
“cepat kamu kebawah berfoto dengan aktor dan aktris serta sutradara pementasan, jangan kau sia-siakan kesempatan ini”
“iya iwan, iya. Kamu duluan saja sana”
“boleh aku bertanya seraya merayu padamu?” malu-malu aku bertanya.
“katakan saja apa itu?” jawabnya percaya
“Boleh aku minta sesuatu diluar keegoisanku? Jangan terlalu baik pada lelaki lain saat kamu disekitarku”. Mata kami berpandang tajam bak katana siap menusuk dada.
Dia senyum, hanya senyum, senyum dan senyum. Semoga kau paham apa maksud kalimat terakhirku, usai pementasan.
Diluar di bumi alang-alang, di bumi batu-batu, di bumi air-air, di bumi udara-udara, di bumi pohon-pohon, di bumi jangkrik-jangkrik, di langit awan-awan, di langit bintang-bintang, dilangit burung terbang, di langit kelelawar menyebar, di langit bulan menelan, dan semua di alam semesta ini seperti siap menyimak cerita tentang tangan mungil kita, ya tangan KITA!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar