Encek pengkun
Encek
Pengkun lahir di Jakarta
Dari kakek nenek yang membumi di Batavia
Sejak
Adrian Velckeneir membantai orang Cina
Walau
sudah mengindonesia sekian lama
Encek
Pengkun belum punya surat warga Negara
Sebab
dipersulit selama penjajahan orde baru
Yang
memakan waktu tiga setengah dasawarsa
Dan
tak sama dengan penjajahan Jepang
Yang
memakan waktu tiga setengah tahun
Dan
tak sama dengan penjajahan belanda
Yang
memakan waktu tiga setengah abad
Untuk
memperoleh surat warganegara
Dan
mengganti namanya menjadi nama jawa
Encek
Pengkun harus mengikuti ujian-ujian
Di
hadapan hakim pengadilan khusus
Ujian
pertama yang diajukan hakim
Adalah
pertanyaan hafalan anak SD
Kata
hakim, “Encek Pengkun,
Coba
sebut ayat-ayat Pancasila.”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya,
“hayya
semua olang tahu la ada lima macam
Kesatu,
kehutanan yang maha esa,
Dua
cula,tiga belian, ampat sehat, lima sempulna.”
Hakim
geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali
esok pagi di siding pengadilan ini
Besok
pagi, keplek keplek keplek
Encek
pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata
hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali
ini anda harus jawab dengan benar
Sebab
kalau salah surat warga Negara anda
Tidak
bakalan saya tandatangani
Nah,
siapa penggali pancasila?”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya,
semua olang tahu, ada khong ping ho dali solo
Banyak
kalang buku-buku celita ‘pencak silat’.”
Hakim
membentak, “bukan pencaksilat tapi pancasila!”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya,
sama la, dua dua alat bela dili.”
Hakim
geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali
esok pagi di siding pengadilan ini
Besok
pagi, keplek keplek keplek
Encek
pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata
hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali
ini anda harus jawab dengan benar
Sebab
kalau salah surat warga Negara anda
Tidak
bakalan saya tandatangani.”
Hakim
menunjukan foto besar Suharto
Sambil
bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya
semua olang tahu la, itu sukalno.”
Hakim
membentak, ”Bukan! ini Suharto.”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya,
sama la, dua-dua pake kopiah.”
Hakim
geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali
esok pagi di siding pengadilan ini
Besok
pagi, keplek keplek keplek
Encek
pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata
hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali
ini anda harus jawab dengan benar
Sebab
kalau salah surat warga Negara anda
Tidak
bakalan saya tandatangani.”
Hakim
menunjukan foto besar ibu kartini
Sambil
bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya
semua olang tahu la, itu melek jamu
Cap
nynya menel dali semalang.”
Hakim
membentak, ”Bukan! ini ibu kartini.”
Jawab
encek pengkun dengan lugunya
“hayya,
sama la, dua-dua pake konde.”
Hakim
geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali
esok pagi di siding pengadilan ini
Besok
pagi, keplek keplek keplek
Encek
pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata
hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali
ini anda harus jawab dengan benar
Sebab
kalau salah surat warga Negara anda
Tidak
bakalan saya tandatangani.”
Tumben,
encek pengkun tidak lugu
Berkata
yakin “sekalang owe tidak gagal lagi.”
Kata
hakim, “hari ini anda hanya cukup menyanyi
Lagu
kebangsaan ‘Indonesia Raya’.”
Tumben,
encek pengkun tidak lugu
Berkata
yakin “soal nyanyi owe no satu.”
Dan
sambil beerdiri tegak enecek pengkun menyanyi
“Indonesia
tanah ail-‘mu’
Tanah
tumpah dalah-‘mu’.”
Hakim
membentak, hei, bukan ‘mu’ tapi ‘ku’.”
Jawab
encek pengkun tidak lugu lagi,
“hayya,
kalau begitu tandatangan dulu
Owe
punya sulat walganegala.
Kalau
sudah tanda tangan owe nyanyi ‘ku’
Sebelum
tanda tangan owe nyanyi ‘mu’.”
Hakim
geram, tapi mengalah, katanya, “ya, sudah
Saya
tandatangani sekarang juga
Mulai
sekarang nama anda: Kuntarto Winoto
Diluar
siding pengadilan hakim berkata,
“nanti
pemilu anda harus pilih salah Satu
Dari
tiga partai besar: PPP,Golkar, PDI.
Kira-kira
anda pilih yang mana?”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya
owe tidak pilih mana-mana.”
Kata
hakim, “tidak boleh !anda harus pilih Golkar.”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya,
tidak mau, owe bisa susah
Kalau
golkar menang, pembangunan dimana mana
Lantas
owe punya lumah kena potong dibikin jalan.”
Kata
hakim, “kalau begitu pilih saja PDI.”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya,
tidak mau, owe bisa susah
Paltai
banteng paltainya sukalno
Dulu
jaman sukalno owe punya uang kena potong
Kalau
PDI menang, owe punya uang kena potong lagi.”
Kata
hakim, “kalau begitu pilih PPP.”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya,
tidak mau, owe tambah susah
Kalau
PPP menang, dibelakukan syaliat islam
Lantas
owe punya lancau kena potong disunat.”
Kata
hakim, “kalau kalau begitu anda pilih partai apa?”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya,
owe pilih golput saja.”
Kata
hakim, “golput tidak boleh.”
Jawab
encek pengkun stel yakin
“hayya
emang gue pikilin?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar