Jumat, 08 Januari 2016

Encek pengkun karya Remy Sylado

Encek pengkun

Encek Pengkun lahir di Jakarta

Dari kakek nenek yang membumi di Batavia
Sejak Adrian Velckeneir membantai orang Cina

Walau sudah mengindonesia sekian lama
Encek Pengkun belum punya surat warga Negara
Sebab dipersulit selama penjajahan orde baru
Yang memakan waktu tiga setengah dasawarsa
Dan tak sama dengan penjajahan Jepang
Yang memakan waktu tiga setengah tahun
Dan tak sama dengan penjajahan belanda
Yang memakan waktu tiga setengah abad

Untuk memperoleh surat warganegara
Dan mengganti namanya menjadi nama jawa
Encek Pengkun harus mengikuti ujian-ujian
Di hadapan hakim pengadilan khusus

Ujian pertama yang diajukan hakim
Adalah pertanyaan hafalan anak SD
Kata hakim, “Encek Pengkun,
Coba sebut ayat-ayat Pancasila.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya,
“hayya semua olang tahu la ada lima macam
Kesatu, kehutanan yang maha esa,
Dua cula,tiga belian, ampat sehat, lima sempulna.”
                                 
Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani
Nah, siapa penggali pancasila?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, semua olang tahu, ada khong ping ho dali solo
Banyak kalang buku-buku celita ‘pencak silat’.”
Hakim membentak, “bukan pencaksilat tapi pancasila!”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua dua alat bela dili.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Hakim menunjukan foto besar Suharto
Sambil bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya semua olang tahu la, itu sukalno.”
Hakim membentak, ”Bukan! ini Suharto.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua-dua pake kopiah.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Hakim menunjukan foto besar ibu kartini
Sambil bertanya, “wajah siapa ini?”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya semua olang tahu la, itu melek jamu
Cap nynya menel dali semalang.”
Hakim membentak, ”Bukan! ini ibu kartini.”
Jawab encek pengkun dengan lugunya
“hayya, sama la, dua-dua pake konde.”

Hakim geram, dan menyuruh encek pengkun
Kembali esok pagi di siding pengadilan ini

Besok pagi, keplek keplek keplek
Encek pengkun masuk ruang siding siap uji.
Kata hakim, “karena anada gagal kemarin
Kali ini anda harus jawab dengan benar
Sebab kalau salah surat warga Negara anda
Tidak bakalan saya tandatangani.”
Tumben, encek pengkun tidak lugu
Berkata yakin “sekalang owe tidak gagal lagi.”
Kata hakim, “hari ini anda hanya cukup menyanyi
Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’.”
Tumben, encek pengkun tidak lugu
Berkata yakin “soal nyanyi owe no satu.”
Dan sambil beerdiri tegak enecek pengkun menyanyi
“Indonesia tanah ail-‘mu’
Tanah tumpah dalah-‘mu’.”
Hakim membentak, hei, bukan ‘mu’ tapi ‘ku’.”
Jawab encek pengkun tidak lugu lagi,
“hayya, kalau begitu tandatangan dulu
Owe punya sulat walganegala.
Kalau sudah tanda tangan owe nyanyi ‘ku’
Sebelum tanda tangan owe nyanyi ‘mu’.”

Hakim geram, tapi mengalah, katanya, “ya, sudah
Saya tandatangani sekarang juga
Mulai sekarang nama anda: Kuntarto Winoto

Diluar siding pengadilan hakim berkata,
“nanti pemilu anda harus pilih salah Satu
Dari tiga partai besar: PPP,Golkar, PDI.
Kira-kira anda pilih yang mana?”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya owe tidak pilih mana-mana.”
Kata hakim, “tidak boleh !anda harus pilih Golkar.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe bisa susah
Kalau golkar menang, pembangunan dimana mana
Lantas owe punya lumah kena potong dibikin jalan.”
Kata hakim, “kalau begitu pilih saja PDI.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe bisa susah
Paltai banteng paltainya sukalno
Dulu jaman sukalno owe punya uang kena potong
Kalau PDI menang, owe punya uang kena potong lagi.”
Kata hakim, “kalau begitu pilih PPP.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, tidak mau, owe tambah susah
Kalau PPP menang, dibelakukan syaliat islam
Lantas owe punya lancau kena potong disunat.”
Kata hakim, “kalau kalau begitu anda pilih partai apa?”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya, owe pilih golput saja.”
Kata hakim, “golput tidak boleh.”
Jawab encek pengkun stel yakin
“hayya emang gue pikilin?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar